Wednesday, September 12, 2018

Model Pembelajaran Kontekstual dan Kolaboratif


Model Pembelajaran Kontekstual dan Kolaboratif

A. Model Pembelajaran Kontekstual
1. Pengertian Model Pembelajaran Kontektual
     Model kontekstual adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan mereka. Definisi tersebut menunjukkan bahwa ada 3 kata kunci dalam model kontekstual; 1) Model kontekstual menekankan proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi (pengalaman), 2) Mendorong siswa untuk menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi nyata. 3) mendorong siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan.
Model kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi nyata siswa dan mendorong antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Model Kontekstual sebagai suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya, sosialnya, dan budayanya. Untuk mencapai tujuan tersebut, sistem CTL, akan menuntun siswa ke semua komponen utama CTL, yaitu melakukan hubungan yang bermakna, mengerjakan pekerjaan yang berarti, mengatur cara belajar sendiri, bekerja sama, berpikir kritis dan kreatif, memelihara atau merawat pribadi siswa, mencapai standar yang tinggi, dan menggunakan penilaian sebenarnya.
Pengertian-pengertian di atas menunjukkan bahwa model pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) sebagai konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan.
Dari pengertian di atas, maka ada beberapa kunci dalam model pembelajaran kontekstual, yaitu: 1) Real World Learning 2) Mengutamakan pengalaman nyata, 3) Berfikir tingkat tinggi, 4) Berpusat pada siswa, 5) Siswa aktif, kritis, dan kreatif, 6) Pengetahuan bermakna dalam kehidupan, 7) Dekat dengan kehidupan nyata, 8) Perubahan perilaku, 9) Siswa praktek bukan menghafal, 10) Learning not teaching, 11) Pendidikan bukan pengajaran, 12) Pembentukan manusia, 13) Memecahkan masalah, 14) Hasil belajar diukur dengan berbagai cara bukan hanya dengan Tes.

2. Latar belakang CTL; Filosofis dan Psikologis
         Model kontekstual dipengeruhi oleh filsafat konstruktivisme yang mulai digagas oleh Mark Baldwin dan selanjutnya dikembangkan oleh Jean Piaget. Aliran filsafat kontruktivisme berangkat dari pemikiran epistemologi Giambastista. Pandangan filsafat konstruktivisme tentang hakikat pengetahuan mempengaruhi konsep tentang hakikat proses belajar mengajar, bahwa belajar bukan sekedar menghafal, tetapi mengkonstruksi pengetahuan melalui pengalaman. Pengetahuan bukanlah hasil “pemberian” dari orang lain seperti guru, tetapi hasil mengonstruksi yang dilakukan setiap individu.
Model konstektual berpijak pada aliran psikologis kognitif, menurut aliran ini proses belajar terjadi karena pemahaman individu akan lingkungan. Belajar bukan peristiwa mekanis seperti keterkaitan stimulus dan respon, belajar melibatkan proses mental yang tidak tampak seperti emosi, minat, motivasi dan kemampuan atau pengalaman.[9] Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang secara bertahap dari sederhana menuju yang kompleks. Oleh karena itu, belajar tidak dapat sekaligus, akan tetapi sesuai dengan irama kemampuan siswa.
3.      Komponen Model Pembelajaran Kontekstual
Komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual di kelas, yaitu:
a)      Konstruktivisme (constructivism)
Konstruktivisme adalah proses membangun dan menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Dalam hal ini, seorang guru perlu mempelajari pengalaman hidup dan pengetahuan, kemudian menyusun pengalaman belajar yang memberi siswa kesempatan baru untuk memperdalam pengetahuan tersebut.
b)      Bertanya (questioning)
Penggunaan pertanyaan untuk menuntun berpikir siswa lebih baik daripada sekedar memberi siswa informasi untuk memperdalam pemahaman siswa. Siswa belajar mengajukan pertanyaan tentang fenomena, belajar bagaimana menyusun pertanyaan yang dapat diuji, dan belajar untuk saling bertanya tentang bukti, interpretasi, dan penjelasan. Pertanyaan digunakan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa.
c)      Inkuiri (inquiry)
Inkuiri adalah proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman, yang diawali dengan pengamatan dari pertanyaan yang muncul. Jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut didapat melalui siklus menyusun dugaan, menyusun hipotesis, mengembangkan cara pengujian hipotesis, membuat pengamatan lebih jauh, dan menyusun teori serta konsep yang berdasar pada data dan pengetahuan.
Adapun langkah-langkah kegiatan menemukan: 1) Merumuskan masalah, 2) Mengamati atau melakukan observasi, 3) Menganalisis dan menyejikan hasil dalam tulisan, gambar laporan, bagan, table atau karya lainnya. 4) Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audiensi yang lain.
Secara singkat pola ini bertujuan untuk melatih kemampuan siswa dalam meneliti, menjelaskan fenomena, dan memecahkan masalah secara ilmiah. Hal ini dilakukan karena pada dasarnya secara intuitif setiap invidu cenderung melakukan kegiatan ilmiah. Kemampuan tersebut dapat dilatih sehinggasetiap individu kelak dapat dapat melakukan kegiatan ilmiahnya secara sadar dan dengan prosedur yang benar.
d)     Masyarakat Belajar (learning community)
Masyarakat belajar adalah sekelompok siswa yang terikat dalam kegiatan belajar agar terjadi proses belajar lebih dalam. Semua siswa harus mempunyai kesempatan untuk bicara dan berbagi ide, mendengarkan ide siswa lain dengan cermat, dan bekerjasama untuk membangun pengetahuan dengan teman di dalam kelompoknya. Konsep ini didasarkan pada ide bahwa belajar secara bersama lebih baik dari pada belajar secara individual.
e)      Pemodelan (modeling)
Pemodelan adalah proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja, dan belajar. Pemodelan tidak jarang memerlukan siswa untuk berpikir dengan mengeluarkan suara keras dan mendemonstrasikan apa yang akan dikerjakan siswa. Pada saat pembelajaran, sering guru memodelkan bagaimana agar siswa belajar, guru menunjukkan bagaimana melakukan sesuatu untuk mempelajari sesuatu yang baru. Guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa.
f)       Refleksi (reflection)
Refleksi memungkinkan cara berpikir tentang apa yang telah siswa pelajari dan untuk membantu siswa menggambarkan makna personal siswa sendiri. Di dalam refleksi, siswa menelaah suatu kejadian, kegiatan, dan pengalaman serta berpikir tentang apa yang siswa pelajari, bagaimana merasakan, dan bagaimana siswa menggunakan pengatahuan baru tersebut. Refleksi dapat ditulis di dalam jurnal, bisa terjadi melalui diskusi, atau merupakan kegiatan kreatif seperti menulis puisi atau membuat karya seni.
g)      Penilaian Autentik (Authentic Assessment)
Penilaian autentik sesungguhnya adalah suatu istilah/terminology yang diciptakan untuk menjelaskan berbagai metode penilaian alternatif. Berbagai metode tersebut memungkinkan siswa dapat mendemonstrasikan kemampuannya untuk menyelesaikan tugas-tugas, memecahkan masalah, atau mengekspresikan pengetahuannya dengan cara mensimulasikan situasi yang dapat ditemui di dalam dunia nyata di luar lingkungan sekolah. Berbagai simulasi tersebut semestinya dapat mengekspresikan prestasi (performance) yang ditemui di dalam praktek dunia nyata seperti tempat kerja. Penilaian autentik seharusnya dapat menjelaskan bagaimana siswa menyelesaikan masalah dan dimungkinkan memiliki lebih dari satu solusi yang benar.Strategi penilaian yang cocok dengan kriteria yang dimaksudkan adalah suatu kombinasi dari beberapa teknik penilaian.
Hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa, yaitu; proyek, PR, kuis, karya siswa, presentasi atau penampilan siswa, demonstrasi, laporan, jurnal, hasil tes tulis, karya tulis.[13]
4.      Perbedaan Model Kontekstual dan Pendekatan Tradisional
Ada beberapa perbedaan antara model kontekstual dengan model tradisional, yaitu:
No
Model Kontekstual
Tradisional
1
Siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran
Siswa adalah penerima informasi secara pasif
2
Siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi.
Siswa belajar secara individual
3
Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata dan atau yang disimulasikan
Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis
4
Perilaku dibangun atas dasar kesadaran diri
Perilaku dibangun atas dasar kebiasaan
5
Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman
Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan
6
Hadiah untuk perilaku baik adalah kepuasan diri
Hadiah untuk perilaku baik adalah pujian (angka) rapor
7
Seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia sadar hal itu keliru dan merugikan
Seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia takut hukuman
8
Bahasa diajarkan dengan pendekatan komunikatif, yakni siswa diajak menggunakan bahasa dalam konteks nyata
Bahasa diajarkan dengan pendekatan struktural: rumus diterangkan sampai paham kemudian dilatihkan
9
Pemahaman siswa dikembangkan atas dasar yang sudah ada dalam diri siswa
Pemahaman ada di luar siswa, yang harus diterangkan, diterima, dan dihafal
10
Siswa menggunakan kemampuan berfikir kritis, terlibat dalam mengupayakan terjadinnya proses pembelajaran yang efektif, ikut bertanggung jawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif dan membawa pemahaman masing-masing dalam proses pembelajaran
Siswa secara pasif menerima rumusan atau pemahaman (membaca, mendengarkan, mencatat, menghafal) tanpa memberikan kontribusi ide dalam proses pembelajaran
11
Pengetahuan yang dimiliki manusia dikembangkan oleh manusia itu sendiri. Manusia diciptakan atau membangun pengetahuan dengan cara memberi arti dan memahami pengalamannya
Pengetahuan adalah penangkapan terhadap serangkaian fakta, konsep, atau hukum yang berada di luar diri manusia
12
Karena ilmu pengetahuan itu dikembangkan oleh manusia sendiri, sementara manusia selalu mengalami peristiwa baru, maka pengetahuan itu selalu berkembang.
Bersifat absolut dan bersifat final
13
Siswa diminta bertanggung jawab memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing
Guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran
14
Penghargaan terhadap pengalaman siswa sangat diutamakan
Pembelajaran tidak memperhatikan pengalaman siswa
15
Hasil belajar diukur dengan berbagai cara : proses, bekerja, hasil karya, penampilan, rekaman, tes, dll.
Hasil belajar hanya diukur dengan hasil tes
16
Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks dan setting
Pembelajaran hanya terjadi dalam kelas
17
Penyesalan adalah hukuman dari perilaku jelek
Sanksi adalah hukuman dari perilaku jelek
18
Perilaku baik berdasar motivasi intrinsic
Perilaku baik berdasar motivasi ekstrinsik
19
Berbasis pada siswa
Berbasis pada guru
20
Seseorang berperilaku baik karena ia yakin itulah yang terbaik dan bermanfaat
Seseorang berperilaku baik karena dia terbiasa melakukan begitu. Kebiasaan ini dibangun dengan hadiah yang menyenagkan

5.      Karakteristik Model Kontekstual
Pembelajaran kontekstual menurut Muslich mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1.      Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks autentik, yaitu pembelajaran yang diarahkan pada ketercapaian keterampilan dalam konteks kehidupan nyata atau pembelajaran yang dilaksanakan dalam lingkungan yang alamiah (learning in real life setting).
2.      Pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna (meaningful learning).
3.      Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa (learning by doing).
4.      Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling mengoreksi antarteman (learning in a group).
5.      Pembelajaran memberikan kesempatan untuk menciptakan rasa kebersamaan, bekerja sama, dan saling memahami antara satu dengan yang lain secara mendalam (learning to know each other deeply).
6.      Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, produktif, dan mementingkan kerja sama (learning to ask, to inquiry, to work together).
7.      Pembelajaran dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan (learning as an enjoy activity).
Sedangkan menurut Yatim Riyanto, ciri-ciri pembelajaran kontekstual antara lain:
1)      Kerjasama
2)      Saling menunjang
3)      Menyenangkan, tidak membosankan
4)      Belajar dengan bergairah
5)      Pembelajaran terintegrasi
6)      Menggunakan berbagai sumber
7)      Siswa aktif
8)      Sharing dengan teman
9)      Siswa kritis, guru kreatif
10)  Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan sebagainya
11)  Laporan kepada orang tua bukan saja rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dan sebagainya.
6.      Implementasi Model Kontekstual di Kelas
Contextual Teaching & Learning (CTL) dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya sebagai berikut ini.
a)      Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
b)      Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
c)      kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
d)     Ciptakan masyarakat belajar.
e)      Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
f)       Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
g)      Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.

              B. Model pembelajaran Kolaboratif
1.      Pengertian Model Pembelajaran Kolaboratif
Pembelajaran kolaboratif atau Collaborative Learning  adalah situasi dimana terdapat dua atau lebih orang belajar atau berusaha untuk belajar sesuatu secara bersama-sama. Tidak seperti belajar sendirian, orang yang terlibat dalam collaborative learning  memanfaatkan sumber daya dan keterampilan satu sama lain (meminta informasi satu sama lain, mengevaluasi ide-ide satu sama lain, memantau pekerjaan satu sama lain, dll).
Lebih khusus, collaborative learning  didasarkan pada model di mana pengetahuan dapat dibuat dalam suatu populasi di mana anggotanya secara aktif berinteraksi dengan berbagi pengalaman dan mengambil peran asimetri (berbeda). Dengan kata lain, collaborative learning  mengacu pada lingkungan dan metodologi kegiatan peserta didik melakukan tugas umum di mana setiap individu tergantung dan bertanggung jawab satu sama lain. Hal ini juga termasuk percakapan dengan tatap muka dan diskusi dengan komputer (forum online, chat rooms, dll.). Metode untuk memeriksa proses collaborative learning  meliputi analisis percakapan dan analisis wacana statistik.
Collaborative learning  ini sangat berakar dalam pandangan Vygotsky bahwa ada sebuah sifat sosial yang melekat pada pembelajaran, yang tercermin melalui teorinya tentang zona pengembangan proksimal. Sering kali, pembelajaran kolaboratif digunakan sebagai istilah umum untuk berbagai pendekatan dalam pendidikan itu. melibatkan upaya intelektual bersama oleh siswa atau siswa dan guru. Dengan demikian, pembelajaran kolaboratif umumnya berlangsung ketika kelompok siswa bekerja sama untuk mencari pengertian, makna, atau solusi untuk membuat sebuah artefak atau produk pembelajaran mereka. Lebih jauh, pembelajaran kolaboratif yang mengubah hubungan tradisional murid-guru di kelas ini, menghasilkan kontroversi mengenai apakah paradigma ini lebih bermanfaat daripada merugikan. Kegiatan belajar secara kolaboratif dapat mencakup penulisan kolaboratif, proyek kelompok, pemecahan masalah secara bersama, debat, studi tim, dan kegiatan lainnya. Pendekatan ini terkait erat dengan pembelajaran kooperatif.
2.      Contoh Pembelajaran Kolaboratif.
Collaborative Networked Learning  (CNL) adalah suatu bentuk pembelajaran kolaboratif untuk para pembelajar dewasa mandiri. Menurut Findley (1987)     “Collaborative Networked Learning  adalah pembelajaran yang terjadi melalui dialog elektronik antara co-learner, leaner (peserta didik), dan para pakar yang masing-masing memegang kendali atas dirinya sendiri. Peserta didik memiliki sebuah tujuan bersama, tergantung pada satu sama lain dan bertanggung jawab kepada satu sama lain untuk keberhasilan mereka. Collaborative Networked Learning  terjadi dalam kelompok interaktif di mana peserta secara aktif berkomunikasi dan bernegosiasi makna satu sama lain dalam kerangka kontekstual, dapat difasilitasi oleh seorang mentor, pelatih online atau pemimpin kelompok.”
Pada 1980-an Dr A. Findley memimpin proyek Collaborative Networked Learning  pada Digital Equipment Corporation di Pantai Timur Amerika Serikat. Pada proyek Findley, dilakukan analisis kecenderungan dan dikembangkan prototipe dari lingkungan belajar kolaboratif, yang menjadi dasar untuk mereka lebih lanjut penelitian dan pengembangan apa yang mereka sebut Collaborative Networked Learning (CNL).
Computer-Supported Collaborative Learning (CSCL)  merupakan paradigma pendidikan yang relatif baru dalam pembelajaran kolaboratif yang menggunakan teknologi dalam lingkungan pembelajaran untuk membantu menengahi dan mendukung interaksi kelompok dalam konteks pembelajaran kolaboratif. Sistem CSCL menggunakan teknologi untuk mengontrol dan memonitor interaksi, untuk mengatur tugas, aturan, peran, dan untuk menengahi perolehan pengetahuan baru. Baru-baru ini, ada sebuah studi yang menunjukkan bahwa penggunaan robot di dalam kelas untuk meningkatkan pembelajaran kolaboratif menyebabkan peningkatan efektivitas belajar dari kegiatan dan peningkatan motivasi siswa. Para peneliti dan praktisi di beberapa bidang, termasuk ilmu kognitif, sosiologi, teknik komputer telah mulai menyelidiki CSCL. Dengan demikian, bahkan CSCL dapat menjadi bidang trans-disiplin yang baru.
Learning Management Systems  adalah konteks yang memberikan makna pembelajaran kolaboratif tertentu. Dalam konteks ini, pembelajaran kolaboratif mengacu pada kumpulan alat yang peserta didik dapat digunakan untuk membantu, atau dibantu oleh orang lain. Alat tersebut termasuk ruang kelas virtual (yaitu ruang kelas yang didistribusikan secara geografis dan dihubungkan oleh koneksi jaringan secara audio-visual), chatting, thread diskusi, application sharing (misalnya seorang rekan proyek spreadsheet pada layar rekan lain di seluruh link jaringan untuk tujuan kolaborasi), dan lain sebagainya.
Collaborative Learning Development  memungkinkan pengembang sistem pembelajaran untuk bekerja sebagai sebuah jaringan. Secara khusus hal ini relevan dengan e-learning  di mana pengembang dapat berbagi dan membangun pengetahuan di program studi dalam lingkungan kolaboratif. Pengetahuan tentang subjek tunggal dapat ditarik bersama-sama dari lokasi yang berbeda secara geografis menggunakan sistem perangkat lunak. Contoh sistem ini adalah Content Point dari Atlantic Link.
Collaborative Learning in Virtual Worlds  adalah Virtual Worlds  yang menurut sifatnya diharapkan memberikan kesempatan yang sangat baik untuk pembelajaran kolaboratif. Pertama-tama pembelajaran di dunia virtual terbatas pada pertemuan kelas dan kuliah, mirip dengan rekan-rekan mereka dalam kehidupan nyata. Sekarang pembelajaran kolaboratif berkembang sebagai perusahaan yang mulai memanfaatkan fitur unik yang ditawarkan oleh ruang dunia maya – seperti kemampuan untuk merekam dan memetakan aliran ide, menggunakan model 3D dan virtual worlds mind mapping tool.
Pembelajaran kolaboratif di lingkaran tesis dalam pendidikan tinggi adalah contoh lain dari orang-orang yang belajar bersama. Dalam lingkaran tesis, sejumlah mahasiswa bekerja sama dengan setidaknya satu profesor atau dosen, untuk bersama-sama melatih dan mengawasi pekerjaan individu pada akhir proyek (sarjana atau magister misalnya). Siswa sering beralih antara peran mereka sebagai co-supervisor dari siswa lain dan tesis mereka sendiri (termasuk menerima pendapat dari siswa lain).
3.      Collaborative Scripts.
Collaborative scripts  adalah pembuat struktur dari collaborative learningdengan membuat peran dan menengahi interaksi demi fleksibilitas dalam dialog dan aktivitas. Collaborative scripts  digunakan pada semua kasus collaborative learning  yang beberapa diantaranya lebih cocok digunakan untuk face to face collaborative learning  (biasanya karena lebih fleksibel) dan beberapa yang lain ditujukan untuk computer-supported collaborative learning (biasanya karena lebih banyak batasannya). Sebagai tambahan, terdapat dua tipe dari script: macro-script dan micro-script. Macro-script ditujukan pada pembuatan situasi dimana interaksi yang diharapkan akan terjadi. Micro-script dititikberatkan pada aktivitas pembelajar individual.
Conceptual Components of Scripts.
Tujuan: membantu peserta (peserta didik dan guru yaitu) bekerja sama untuk terlibat dalam proses kolaborasi yang efisien untuk mencapai tujuan tertentu.
Aktivitas : Identifikasi kegiatan, dan kendala yang mungkin, untuk menyelesaikan kegiatan. Kegiatan dapat mencakup meringkas, mempertanyakan, memberikan argumen, mengajukan sebuah klaim, dll
Sequencing : Menjelaskan harapan dari para peserta dengan menetapkan kegiatan yang harus dilakukan dan dalam rangka apa.
Pendistribusian Peran : Memperjelas peran individu diasumsikan akan membuat pada seluruh aktivitas, peserta terdorong untuk mengadopsi dan mempertimbangkan berbagai perspektif.
Tipe Representasi : representasi tekstual, grafis, atau instruksi oral secara eksplisit disajikan kepada para peserta.


Dari pembahasan diatas, yang ingin saya diskusikan adalah:
  1. Dijelaskan dalam pembelajaran kontekstual dapat mendorong siswa untuk menerapkan pelajaran yang mereka pelajari dalam kehidupan nyata. Realitanya banyak anak yang selesai sekolah mereka malah lebih banyak bermain dari pada menerapkan pelajaran. Dalam hal ini bagaimanakah peranan yang seharusnya guru lakukan agar tujuan dari pembelajaran ini dapat diterapkan oleh siswa?
  2. Apakah model pembelajaran kolaboratif sudah cocok untuk diterapkan pada semua jenjang pendidikan?
  3. Penerapan model pembelajaran kontektual biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga pembelajaran berjalan lambat, lalu bagaimana cara anda mengatasi hal ini?
      
Sumber:
  1. https://alkautsarkalebbi.wordpress.com/2014/05/07/model-pembelajaran-kontekstual-contextual-teaching-and-learning/ (12-09-2018)
  2. https://simdigbs.wordpress.com/2015/01/14/pembelajaran-kolaboratif/. (12-09-2018)
   
 

22 comments:

  1. 2 September 2018 23.19
    Baik saudara, saya akan mencoba menanggapi pertanyaan saudara dipoint 1, sebagaimana kita ketahui disini tupoksi seorang guru yaitu, sebagai fasilitator, mengawasi,membimbing serta memberikan inovasi baru terhadap pembelajaran yg siswa lakukan, supaya siswa dapat mengaplikasikan pembelajaran tersebut, sebaiknya para guru atau pihak sekolah mensosialisasikan atau berkolaborasi dg org tua siswa mereka masing" sehingga nantinya siswa tersebut juga dapat dipantau dan dibimbing oleh org tuanya dirumah atau dilingkungan mereka masing"dan bisa juga dibuatkan semacam tugas(pekerjaan dirumah) supaya siswa dapat melaksanakan pembelajaran dirumahnya masing atau berkelompok.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih atas jawabanya mas roni, 
      Saya setuju akan jawaban yang anda berikan namun disuatu sisi saya melihat realita yang ada ketika pihak sekolah mensosialisasikan kepada wali murid, ada wali murid tersebut bukan wali yang sebenarnya melainkan orang yang dibayar oleh murid untuk menghadiri sosialisasi yang diberikan, ada yang orang tuanya datang tapi tidak bisa mengawasi sepenuhnya ketika anaknya bersekolah hal ini biasanya terjadi pada anak sekolah yang kost atau jauh dari orang tua, sehingga sosialisasi tersebut terkesan sebagai angin lalu bagi siswa. Guru juga tidak bisa memantau secara penuh ketika mereka di luar sekolah itu kembali ke orang tuanya & yang kos biasanya kembali ke inisiatif individunya sendiri.

      Delete
  2. Saya tertarik dengan soal nomor 2 menurut pendapat saya model kolaboratif bagus di terapkan di jenjang menengah pertama hingga perguruan tinggi karna ini akan membuat siswa lebih kritis dan lebih termotivasi dalam belajar dan membuat siswa siswi lebih mengetahui kekurangan dan kelebihannya sendiri.terimakasih!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih atas jawabannya,
      Untuk penerapan model kalaboratif pada sekolah tingkat menengah pertama terkhusus pada kelas 7 mereka akan canggung & tidak responsif dalam model ini karena model ini baru bagi mereka, sebagai guru yang menerapkan model ini pada kelas tsb, bagaimana cara kita untuk dapat membuat siswa aktif & dapat mengikuti dengan baik model pembelajaran yang diterapkan ini karena bagi mereka ini merupakan pengalaman yang baru..

      Delete
  3. Saya setuju dgn pendApat saudari lailatul hairi... bahwasanya
    Model pembelajaran kolabaratif tidak bisa diterapkan disemua jenjang pendidikan adakalanya bisa diterapkan disuatu jenjang dan sebaliknya, hal ini karena didalam model pembelajaran kolaboratif kegiatan belajar kelompok lebih diutamakan. Berhasil atau tidaknya tujuan pembelajaran sangat ditentukan oleh keberhasilan diskusi mereka. Misalnya siswa sd yang pada dasarnya belum memiliki rasa tanggung jawab dan cenderung lebih suka bersenang-senang akan kesulitan jika disuruh belajar sendiri apalagi untuk belajar secara berkelompok.

    Terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih atas masukan yang telah disampaikan, semoga proses pencerdasan peserta didik dapat berjalan dengan sebaik & memberikan efek yang nyata bagi peserta didik.

      Delete
  4. Saya menanggapi pertanyaan no.3 .. itu smua di atur oleh guru sebagai org yg mempimpin dalam diskusi tersebut. Guru sudah membuat RPP yang dilengkapi alokasi waktu yang sudah ditetapkan. Dan guru menjelaskan berapa lama waktu dalam diskusi. Dan terus mengingatkan siswa utk berapa lama waktu tersisa sehingga siswa hrus tepat waktu dalam menyelesaikan diskusi. Jika guru tidak melakukan hal tersebut. Maka siswa tidak akan tau brp lama waktu yang digunakan dalam diskusi. Bahkan tidak menutup kemungkinan ada siswa yang memang sengaja mengulur waktu diskusi agar dapat dilanjutkan pd pertemuan selanjutnya padahal kita perlu menyelesaikan diskusi utk segera dievaluasi pada pertemuan itu jg.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya melihat realita yang ada dilapangan meski guru sudah membuat RPP yang dilengkapi alokasi waktu yang sudah ditetapkan namun dalam penerapannya tidak selalu sesuai dengan apa yang sudah direncanakan,saya menilai perencanaan alokasi waktu itu hanya bersifat perkiraan bukan berarti seya tidak setuju dengan rpp & alokasi waktu yg sudah dibuat sedemikian rupa. Dengan demikian alokasi waktu tidaklah mutlak untuk dijadikan patokan meski pada situasi tertentu sesuai untuk harus diikut namun adakalanya tidak sesuai.
      Bila siswa banyak yang belum mengerti tidak etis jika seorang guru langsung pada materi selanjutnya,, lalu bagaimana pendapat anda mengenai ini..

      Hapus

      Delete
  5. Kedua model ini sangat menarik untuk didiskusikan
    Saya coba memberi pendapat atas pertanyaan nomor satu
    Peran guru dalam pembelajaran konkontekstual adalah:
    Merancang pembelajaran yang dapat membuat siswa mengkonstruksi pengetahuan, kemudian mereka dapat menghubungkan pengtahuan tersebut dengan permasalahan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
    2. Menjadi fasilitator saat kegiatan pembelajaran
    3. Membantu siswa memecahkan masalah kontekstual sehingga pembelajaran menjadi bermakna

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih atas masukan dan pencerahannya, sangat bermanfaat...

      Delete
  6. untuk pertanyaan no 1 guru sebaiknya sebelum memilih masalah yang seringkali dialami, kemudian juga perlu memahami tipe belajar dalam dunia siswa, artinya guru perlu menyesuaikan dengan gaya belajar siswa. Dalam proses pembelajaran konvensional hal ini sering terlupakan, sehingga proses pembelajaran tidak ubahnya sebagai proses pemaksaan kehendak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebagai guru dan orang tua kita menginginkan siswa / anak untuk jadi orang yang baik dari segala hal, dengan memberikan tanggung jawab seperti halnya penugasan tanpa itu siswa / anak akan terkesan manja & kurang tanggug jawab maka dari sisi orang tua & guru memang agak terkesan memaksakan kehendak akan tetapi tanpa adanya suatu misi yang harus diselesaikan siswa/ peserta didik bukankah akan membuat anak tersebut kurang tanggung jawab & hal2 lainya tidak sesuai dengan harapan yang diharapkan, sedang diarahkan saja anak peserta didik masih banyak yang kurang baik itu segi sikap, kecerdasan, etika dan sosialnya....

      Delete
    2. Sependapat dengan sdri bestia dan odian.

      Delete
  7. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  8. Artikel yang sangat menarik. Saya akan menanggapi pertanyaan no 2.penerapan model pembelajaran kontektual biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga pembelajaran berjalan lambat, lalu bagaimana cara anda mengatasi hal ini? Cara mengatasi guru harus bisa mengatur waktu. Sebelum menerapkan model kontektual sudah dirancang ssdemikian rupa. Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Rohana: Cara megatasi masalah ini adalah dengan membuat target dan mengacu pada waktu yang telah disepakati pada RPP, melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan waktu yang telah menjadi acuan dalam RPP. Disinilah fungsi guru harus bisa efektif dan efesien dalam menerapkan pembelajaran dan meminimalisir pemborosan waktu.

      Delete
  9. Menurut saya model kolaboratif bagus di terapkan di jenjang menengah pertama hingga perguruan tinggi karna ini akan membuat siswa lebih kritis dan lebih termotivasi dalam belajar dan membuat siswa siswi lebih mengetahui kekurangan dan kelebihannya sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya setuju dengan pendapat saudari vira bahwa model pembelajaran kolaboratif bagusnya diterapkan disekolah menengah pertama kalau diterapkan disekolah dasar tidak bisa karana sekolah dasar tidak bisa menggunakan model kolaboratif atau melakukan pembelajaran secara berkelompok

      Delete
  10. saya akan menanggapi pertanyaan no 2 tentang model pembelajaran kolaboratif sudah cocok untuk diterapkan pada semua jenjang pendidikan belum sepenuhnya karena sesuai kemmapuan jenjang pendidikan misalkan anak sd belum bisa belajar dengan menggunkan kelompok.

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya berpendapat sebaiknnya jangan dipaksakan diterpakan DI sekolah dasar
      karena kemapuan anak skolah dasar belum bisa menngikuti dengan baik model tsb

      Delete
  11. assalamu alaikum, baik saya akan membahas soal nomor 2. saya sependapat dengan beberapa pendapat diatas dimana semua jenjang pendidikan sangat cocok di laksanakan di berbagai jenjang pendidikan.

    ReplyDelete
  12. Artikel yang menarik saudara odian, Saya akan menjawab pertanyaan nomor 2. Saya sependapat dengan rekan rekan yang lain kedua model ini dapat dapat digunakan oleh semua jenjang pendidikan.

    ReplyDelete

Sistem Penilaian Proses Pembelajaran Sains "OdiATmb"

 Sistem Penilaian Proses Pembelajaran Sains  A.  Pengertian Penilaian Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, men...