Model
Pembelajaran Kontekstual dan Kolaboratif
A. Model Pembelajaran Kontekstual
1. Pengertian Model Pembelajaran
Kontektual
Model kontekstual adalah suatu strategi pembelajaran
yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan
materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata
sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan mereka. Definisi
tersebut menunjukkan bahwa ada 3 kata kunci dalam model kontekstual; 1) Model
kontekstual menekankan proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi
(pengalaman), 2) Mendorong siswa untuk menemukan hubungan antara materi yang
dipelajari dengan situasi nyata. 3) mendorong siswa untuk menerapkannya dalam
kehidupan.
Model kontekstual merupakan konsep belajar yang
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi nyata
siswa dan mendorong antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya
dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Model Kontekstual sebagai suatu proses pendidikan yang
bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka
pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan sehari-hari,
yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya, sosialnya, dan budayanya. Untuk
mencapai tujuan tersebut, sistem CTL, akan menuntun siswa ke semua komponen
utama CTL, yaitu melakukan hubungan yang bermakna, mengerjakan pekerjaan yang
berarti, mengatur cara belajar sendiri, bekerja sama, berpikir kritis dan
kreatif, memelihara atau merawat pribadi siswa, mencapai standar yang tinggi,
dan menggunakan penilaian sebenarnya.
Pengertian-pengertian di atas menunjukkan bahwa model
pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) sebagai
konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan
dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan.
Dari pengertian di atas, maka ada beberapa kunci dalam
model pembelajaran kontekstual, yaitu: 1) Real World Learning 2)
Mengutamakan pengalaman nyata, 3) Berfikir tingkat tinggi, 4) Berpusat pada
siswa, 5) Siswa aktif, kritis, dan kreatif, 6) Pengetahuan bermakna dalam
kehidupan, 7) Dekat dengan kehidupan nyata, 8) Perubahan perilaku, 9) Siswa
praktek bukan menghafal, 10) Learning not teaching, 11) Pendidikan
bukan pengajaran, 12) Pembentukan manusia, 13) Memecahkan masalah, 14) Hasil
belajar diukur dengan berbagai cara bukan hanya dengan Tes.
2. Latar belakang CTL; Filosofis dan Psikologis
2. Latar belakang CTL; Filosofis dan Psikologis
Model kontekstual dipengeruhi oleh filsafat konstruktivisme yang mulai
digagas oleh Mark Baldwin dan selanjutnya dikembangkan oleh Jean Piaget. Aliran
filsafat kontruktivisme berangkat dari pemikiran epistemologi Giambastista.
Pandangan filsafat konstruktivisme tentang hakikat pengetahuan mempengaruhi
konsep tentang hakikat proses belajar mengajar, bahwa belajar bukan sekedar
menghafal, tetapi mengkonstruksi pengetahuan melalui pengalaman. Pengetahuan
bukanlah hasil “pemberian” dari orang lain seperti guru, tetapi hasil
mengonstruksi yang dilakukan setiap individu.
Model konstektual berpijak pada aliran psikologis kognitif, menurut aliran
ini proses belajar terjadi karena pemahaman individu akan lingkungan. Belajar
bukan peristiwa mekanis seperti keterkaitan stimulus dan respon, belajar
melibatkan proses mental yang tidak tampak seperti emosi, minat, motivasi dan
kemampuan atau pengalaman.[9] Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang
berkembang secara bertahap dari sederhana menuju yang kompleks. Oleh karena itu,
belajar tidak dapat sekaligus, akan tetapi sesuai dengan irama kemampuan siswa.
3. Komponen Model Pembelajaran Kontekstual
Komponen utama pembelajaran yang mendasari
penerapan pembelajaran kontekstual di kelas, yaitu:
a)
Konstruktivisme (constructivism)
Konstruktivisme adalah proses membangun
dan menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan
pengalaman. Dalam hal ini, seorang guru perlu mempelajari pengalaman hidup dan
pengetahuan, kemudian menyusun pengalaman belajar yang memberi siswa kesempatan
baru untuk memperdalam pengetahuan tersebut.
b)
Bertanya (questioning)
Penggunaan pertanyaan untuk menuntun
berpikir siswa lebih baik daripada sekedar memberi siswa informasi untuk
memperdalam pemahaman siswa. Siswa belajar mengajukan pertanyaan tentang
fenomena, belajar bagaimana menyusun pertanyaan yang dapat diuji, dan belajar
untuk saling bertanya tentang bukti, interpretasi, dan penjelasan. Pertanyaan
digunakan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir
siswa.
c)
Inkuiri (inquiry)
Inkuiri adalah proses perpindahan dari
pengamatan menjadi pemahaman, yang diawali dengan pengamatan dari pertanyaan
yang muncul. Jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut didapat melalui siklus
menyusun dugaan, menyusun hipotesis, mengembangkan cara pengujian hipotesis,
membuat pengamatan lebih jauh, dan menyusun teori serta konsep yang berdasar
pada data dan pengetahuan.
Adapun langkah-langkah kegiatan menemukan: 1) Merumuskan masalah, 2)
Mengamati atau melakukan observasi, 3) Menganalisis dan menyejikan hasil dalam
tulisan, gambar laporan, bagan, table atau karya lainnya. 4) Mengkomunikasikan
atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audiensi
yang lain.
Secara singkat pola ini bertujuan untuk melatih kemampuan siswa dalam meneliti,
menjelaskan fenomena, dan memecahkan masalah secara ilmiah. Hal ini dilakukan
karena pada dasarnya secara intuitif setiap invidu cenderung melakukan kegiatan
ilmiah. Kemampuan tersebut dapat dilatih sehinggasetiap individu kelak dapat
dapat melakukan kegiatan ilmiahnya secara sadar dan dengan prosedur yang benar.
d)
Masyarakat Belajar (learning community)
Masyarakat belajar adalah sekelompok siswa
yang terikat dalam kegiatan belajar agar terjadi proses belajar lebih dalam.
Semua siswa harus mempunyai kesempatan untuk bicara dan berbagi ide,
mendengarkan ide siswa lain dengan cermat, dan bekerjasama untuk membangun
pengetahuan dengan teman di dalam kelompoknya. Konsep ini didasarkan pada ide
bahwa belajar secara bersama lebih baik dari pada belajar secara individual.
e)
Pemodelan (modeling)
Pemodelan adalah proses penampilan suatu
contoh agar orang lain berpikir, bekerja, dan belajar. Pemodelan tidak jarang
memerlukan siswa untuk berpikir dengan mengeluarkan suara keras dan
mendemonstrasikan apa yang akan dikerjakan siswa. Pada saat pembelajaran,
sering guru memodelkan bagaimana agar siswa belajar, guru menunjukkan bagaimana
melakukan sesuatu untuk mempelajari sesuatu yang baru. Guru bukan satu-satunya
model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa.
f)
Refleksi (reflection)
Refleksi memungkinkan cara berpikir
tentang apa yang telah siswa pelajari dan untuk membantu siswa menggambarkan
makna personal siswa sendiri. Di dalam refleksi, siswa menelaah suatu kejadian,
kegiatan, dan pengalaman serta berpikir tentang apa yang siswa pelajari,
bagaimana merasakan, dan bagaimana siswa menggunakan pengatahuan baru tersebut.
Refleksi dapat ditulis di dalam jurnal, bisa terjadi melalui diskusi, atau
merupakan kegiatan kreatif seperti menulis puisi atau membuat karya seni.
g)
Penilaian Autentik (Authentic
Assessment)
Penilaian autentik sesungguhnya adalah
suatu istilah/terminology yang diciptakan untuk menjelaskan berbagai metode
penilaian alternatif. Berbagai metode tersebut memungkinkan siswa dapat
mendemonstrasikan kemampuannya untuk menyelesaikan tugas-tugas, memecahkan
masalah, atau mengekspresikan pengetahuannya dengan cara mensimulasikan situasi
yang dapat ditemui di dalam dunia nyata di luar lingkungan sekolah. Berbagai
simulasi tersebut semestinya dapat mengekspresikan prestasi (performance)
yang ditemui di dalam praktek dunia nyata seperti tempat kerja. Penilaian
autentik seharusnya dapat menjelaskan bagaimana siswa menyelesaikan masalah dan
dimungkinkan memiliki lebih dari satu solusi yang benar.Strategi penilaian yang
cocok dengan kriteria yang dimaksudkan adalah suatu kombinasi dari beberapa
teknik penilaian.
Hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa, yaitu;
proyek, PR, kuis, karya siswa, presentasi atau penampilan siswa, demonstrasi, laporan,
jurnal, hasil tes tulis, karya tulis.[13]
4. Perbedaan Model Kontekstual dan Pendekatan Tradisional
Ada beberapa perbedaan antara model
kontekstual dengan model tradisional, yaitu:
No
|
Model Kontekstual
|
Tradisional
|
1
|
Siswa secara aktif terlibat dalam proses
pembelajaran
|
Siswa adalah penerima informasi secara
pasif
|
2
|
Siswa belajar dari teman melalui kerja
kelompok, diskusi, saling mengoreksi.
|
Siswa belajar secara individual
|
3
|
Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan
nyata dan atau yang disimulasikan
|
Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis
|
4
|
Perilaku dibangun atas dasar kesadaran
diri
|
Perilaku dibangun atas dasar kebiasaan
|
5
|
Keterampilan dikembangkan atas dasar
pemahaman
|
Keterampilan dikembangkan atas dasar
latihan
|
6
|
Hadiah untuk perilaku baik adalah
kepuasan diri
|
Hadiah untuk perilaku baik adalah pujian
(angka) rapor
|
7
|
Seseorang tidak melakukan yang jelek
karena dia sadar hal itu keliru dan merugikan
|
Seseorang tidak melakukan yang jelek
karena dia takut hukuman
|
8
|
Bahasa diajarkan dengan pendekatan
komunikatif, yakni siswa diajak menggunakan bahasa dalam konteks nyata
|
Bahasa diajarkan dengan pendekatan
struktural: rumus diterangkan sampai paham kemudian dilatihkan
|
9
|
Pemahaman siswa dikembangkan atas dasar
yang sudah ada dalam diri siswa
|
Pemahaman ada di luar siswa, yang harus
diterangkan, diterima, dan dihafal
|
10
|
Siswa menggunakan kemampuan berfikir
kritis, terlibat dalam mengupayakan terjadinnya proses pembelajaran yang
efektif, ikut bertanggung jawab atas terjadinya proses pembelajaran yang
efektif dan membawa pemahaman masing-masing dalam proses pembelajaran
|
Siswa secara pasif menerima rumusan atau
pemahaman (membaca, mendengarkan, mencatat, menghafal) tanpa memberikan
kontribusi ide dalam proses pembelajaran
|
11
|
Pengetahuan yang dimiliki manusia
dikembangkan oleh manusia itu sendiri. Manusia diciptakan atau membangun
pengetahuan dengan cara memberi arti dan memahami pengalamannya
|
Pengetahuan adalah penangkapan terhadap
serangkaian fakta, konsep, atau hukum yang berada di luar diri manusia
|
12
|
Karena ilmu pengetahuan itu dikembangkan
oleh manusia sendiri, sementara manusia selalu mengalami peristiwa baru, maka
pengetahuan itu selalu berkembang.
|
Bersifat absolut dan bersifat final
|
13
|
Siswa diminta bertanggung jawab memonitor
dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing
|
Guru adalah penentu jalannya proses
pembelajaran
|
14
|
Penghargaan terhadap pengalaman siswa
sangat diutamakan
|
Pembelajaran tidak memperhatikan
pengalaman siswa
|
15
|
Hasil belajar diukur dengan berbagai
cara : proses, bekerja, hasil karya, penampilan, rekaman, tes, dll.
|
Hasil belajar hanya diukur dengan hasil
tes
|
16
|
Pembelajaran terjadi di berbagai tempat,
konteks dan setting
|
Pembelajaran hanya terjadi dalam kelas
|
17
|
Penyesalan adalah hukuman dari perilaku
jelek
|
Sanksi adalah hukuman dari perilaku
jelek
|
18
|
Perilaku baik berdasar motivasi
intrinsic
|
Perilaku baik berdasar motivasi
ekstrinsik
|
19
|
Berbasis pada siswa
|
Berbasis pada guru
|
20
|
Seseorang berperilaku baik karena ia
yakin itulah yang terbaik dan bermanfaat
|
Seseorang berperilaku baik karena dia
terbiasa melakukan begitu. Kebiasaan ini dibangun dengan hadiah yang
menyenagkan
|
5. Karakteristik Model Kontekstual
Pembelajaran kontekstual menurut Muslich
mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1.
Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks
autentik, yaitu pembelajaran yang diarahkan pada ketercapaian keterampilan
dalam konteks kehidupan nyata atau pembelajaran yang dilaksanakan dalam
lingkungan yang alamiah (learning in real life setting).
2.
Pembelajaran memberikan kesempatan kepada
siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna (meaningful learning).
3.
Pembelajaran dilaksanakan dengan
memberikan pengalaman bermakna kepada siswa (learning by doing).
4.
Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja
kelompok, berdiskusi, saling mengoreksi antarteman (learning in a group).
5.
Pembelajaran memberikan kesempatan untuk
menciptakan rasa kebersamaan, bekerja sama, dan saling memahami antara satu
dengan yang lain secara mendalam (learning to know each other deeply).
6.
Pembelajaran dilaksanakan secara aktif,
kreatif, produktif, dan mementingkan kerja sama (learning to ask, to
inquiry, to work together).
7.
Pembelajaran dilaksanakan dalam situasi
yang menyenangkan (learning as an enjoy activity).
Sedangkan menurut Yatim Riyanto, ciri-ciri pembelajaran kontekstual antara
lain:
1)
Kerjasama
2)
Saling menunjang
3)
Menyenangkan, tidak membosankan
4)
Belajar dengan bergairah
5)
Pembelajaran terintegrasi
6)
Menggunakan berbagai sumber
7)
Siswa aktif
8)
Sharing dengan teman
9)
Siswa kritis, guru kreatif
10)
Dinding kelas dan lorong-lorong penuh
dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan sebagainya
11)
Laporan kepada orang tua bukan saja rapor,
tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dan
sebagainya.
6. Implementasi Model Kontekstual di Kelas
Contextual Teaching
& Learning (CTL) dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi
apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas
cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya sebagai berikut ini.
a)
Kembangkan pemikiran bahwa anak akan
belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri
pengetahuan dan keterampilan barunya.
b)
Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri
untuk semua topik.
c)
kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan
bertanya.
d)
Ciptakan masyarakat belajar.
e)
Hadirkan model sebagai contoh
pembelajaran.
f)
Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
g)
Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan
berbagai cara.
B. Model pembelajaran Kolaboratif
1.
Pengertian
Model Pembelajaran Kolaboratif
Pembelajaran kolaboratif atau Collaborative Learning
adalah situasi dimana terdapat dua atau lebih orang belajar atau berusaha untuk
belajar sesuatu secara bersama-sama. Tidak seperti belajar sendirian, orang
yang terlibat dalam collaborative learning
memanfaatkan sumber daya dan keterampilan satu sama lain (meminta informasi
satu sama lain, mengevaluasi ide-ide satu sama lain, memantau pekerjaan satu
sama lain, dll).
Lebih khusus, collaborative learning didasarkan pada model di
mana pengetahuan dapat dibuat dalam suatu populasi di mana anggotanya secara
aktif berinteraksi dengan berbagi pengalaman dan mengambil peran asimetri
(berbeda). Dengan kata lain, collaborative learning mengacu
pada lingkungan dan metodologi kegiatan peserta didik melakukan tugas umum di
mana setiap individu tergantung dan bertanggung jawab satu sama lain. Hal ini
juga termasuk percakapan dengan tatap muka dan diskusi dengan komputer (forum online, chat rooms, dll.). Metode untuk
memeriksa proses collaborative learning meliputi
analisis percakapan dan analisis wacana statistik.
Collaborative
learning ini sangat
berakar dalam pandangan Vygotsky bahwa ada sebuah sifat sosial yang melekat
pada pembelajaran, yang tercermin melalui teorinya tentang zona pengembangan
proksimal. Sering kali, pembelajaran kolaboratif digunakan sebagai istilah umum
untuk berbagai pendekatan dalam pendidikan itu. melibatkan upaya intelektual
bersama oleh siswa atau siswa dan guru. Dengan demikian, pembelajaran
kolaboratif umumnya berlangsung ketika kelompok siswa bekerja sama untuk
mencari pengertian, makna, atau solusi untuk membuat sebuah artefak atau produk
pembelajaran mereka. Lebih jauh, pembelajaran kolaboratif yang mengubah
hubungan tradisional murid-guru di kelas ini, menghasilkan kontroversi mengenai
apakah paradigma ini lebih bermanfaat daripada merugikan. Kegiatan belajar
secara kolaboratif dapat mencakup penulisan kolaboratif, proyek kelompok,
pemecahan masalah secara bersama, debat, studi tim, dan kegiatan lainnya.
Pendekatan ini terkait erat dengan pembelajaran kooperatif.
2. Contoh
Pembelajaran Kolaboratif.
Collaborative
Networked Learning (CNL)
adalah suatu bentuk pembelajaran kolaboratif untuk para pembelajar dewasa
mandiri. Menurut Findley (1987) “Collaborative Networked
Learning adalah pembelajaran yang terjadi melalui dialog
elektronik antara co-learner, leaner (peserta didik), dan para pakar yang
masing-masing memegang kendali atas dirinya sendiri. Peserta didik memiliki
sebuah tujuan bersama, tergantung pada satu sama lain dan bertanggung jawab
kepada satu sama lain untuk keberhasilan mereka. Collaborative Networked Learning terjadi
dalam kelompok interaktif di mana peserta secara aktif berkomunikasi dan
bernegosiasi makna satu sama lain dalam kerangka kontekstual, dapat
difasilitasi oleh seorang mentor, pelatih online atau pemimpin kelompok.”
Pada 1980-an Dr A. Findley memimpin
proyek Collaborative Networked Learning pada Digital
Equipment Corporation di Pantai Timur Amerika Serikat. Pada proyek Findley,
dilakukan analisis kecenderungan dan dikembangkan prototipe dari lingkungan
belajar kolaboratif, yang menjadi dasar untuk mereka lebih lanjut penelitian
dan pengembangan apa yang mereka sebut Collaborative Networked
Learning (CNL).
Computer-Supported
Collaborative Learning (CSCL) merupakan paradigma pendidikan yang relatif baru dalam
pembelajaran kolaboratif yang menggunakan teknologi dalam lingkungan
pembelajaran untuk membantu menengahi dan mendukung interaksi kelompok dalam
konteks pembelajaran kolaboratif. Sistem CSCL menggunakan teknologi untuk
mengontrol dan memonitor interaksi, untuk mengatur tugas, aturan, peran, dan
untuk menengahi perolehan pengetahuan baru. Baru-baru ini, ada sebuah studi
yang menunjukkan bahwa penggunaan robot di dalam kelas untuk meningkatkan
pembelajaran kolaboratif menyebabkan peningkatan efektivitas belajar dari
kegiatan dan peningkatan motivasi siswa. Para peneliti dan praktisi di beberapa
bidang, termasuk ilmu kognitif, sosiologi, teknik komputer telah mulai
menyelidiki CSCL. Dengan demikian, bahkan CSCL dapat menjadi bidang
trans-disiplin yang baru.
Learning
Management Systems adalah
konteks yang memberikan makna pembelajaran kolaboratif tertentu. Dalam konteks
ini, pembelajaran kolaboratif mengacu pada kumpulan alat yang peserta didik
dapat digunakan untuk membantu, atau dibantu oleh orang lain. Alat tersebut
termasuk ruang kelas virtual (yaitu ruang kelas yang didistribusikan secara
geografis dan dihubungkan oleh koneksi jaringan secara audio-visual), chatting,
thread diskusi, application sharing (misalnya seorang rekan proyek spreadsheet
pada layar rekan lain di seluruh link jaringan untuk tujuan kolaborasi), dan
lain sebagainya.
Collaborative
Learning Development memungkinkan
pengembang sistem pembelajaran untuk bekerja sebagai sebuah jaringan. Secara
khusus hal ini relevan dengan e-learning di
mana pengembang dapat berbagi dan membangun pengetahuan di program studi dalam
lingkungan kolaboratif. Pengetahuan tentang subjek tunggal dapat ditarik
bersama-sama dari lokasi yang berbeda secara geografis menggunakan sistem
perangkat lunak. Contoh sistem ini adalah Content Point dari Atlantic Link.
Collaborative
Learning in Virtual Worlds adalah Virtual Worlds yang
menurut sifatnya diharapkan memberikan kesempatan yang sangat baik untuk
pembelajaran kolaboratif. Pertama-tama pembelajaran di dunia virtual terbatas
pada pertemuan kelas dan kuliah, mirip dengan rekan-rekan mereka dalam
kehidupan nyata. Sekarang pembelajaran kolaboratif berkembang sebagai
perusahaan yang mulai memanfaatkan fitur unik yang ditawarkan oleh ruang dunia
maya – seperti kemampuan untuk merekam dan memetakan aliran ide, menggunakan
model 3D dan virtual worlds mind mapping tool.
Pembelajaran kolaboratif di lingkaran tesis
dalam pendidikan tinggi adalah contoh lain dari orang-orang yang belajar
bersama. Dalam lingkaran tesis, sejumlah mahasiswa bekerja sama dengan
setidaknya satu profesor atau dosen, untuk bersama-sama melatih dan mengawasi
pekerjaan individu pada akhir proyek (sarjana atau magister misalnya). Siswa
sering beralih antara peran mereka sebagai co-supervisor dari siswa lain dan
tesis mereka sendiri (termasuk menerima pendapat dari siswa lain).
3.
Collaborative Scripts.
Collaborative scripts adalah pembuat struktur dari collaborative learningdengan membuat peran dan
menengahi interaksi demi fleksibilitas dalam dialog dan aktivitas. Collaborative scripts digunakan pada semua
kasus collaborative learning yang beberapa
diantaranya lebih cocok digunakan untuk face to face collaborative
learning (biasanya karena lebih fleksibel) dan beberapa yang
lain ditujukan untuk computer-supported
collaborative learning (biasanya karena lebih banyak
batasannya). Sebagai tambahan, terdapat dua tipe dari script: macro-script dan
micro-script. Macro-script ditujukan pada pembuatan situasi dimana interaksi
yang diharapkan akan terjadi. Micro-script dititikberatkan pada aktivitas
pembelajar individual.
Conceptual Components of
Scripts.
Tujuan: membantu peserta (peserta didik dan guru yaitu) bekerja sama untuk
terlibat dalam proses kolaborasi yang efisien untuk mencapai tujuan tertentu.
Aktivitas : Identifikasi kegiatan, dan kendala yang mungkin, untuk
menyelesaikan kegiatan. Kegiatan
dapat mencakup meringkas, mempertanyakan, memberikan argumen, mengajukan sebuah
klaim, dll
Sequencing : Menjelaskan harapan dari para peserta dengan menetapkan
kegiatan yang harus dilakukan dan dalam rangka apa.
Pendistribusian Peran : Memperjelas peran individu diasumsikan
akan membuat pada seluruh aktivitas, peserta terdorong untuk mengadopsi dan
mempertimbangkan berbagai perspektif.
Tipe Representasi : representasi tekstual, grafis, atau
instruksi oral secara eksplisit disajikan kepada para peserta.
Dari pembahasan diatas, yang ingin saya diskusikan adalah:
- Dijelaskan dalam pembelajaran kontekstual dapat mendorong siswa untuk menerapkan pelajaran yang mereka pelajari dalam kehidupan nyata. Realitanya banyak anak yang selesai sekolah mereka malah lebih banyak bermain dari pada menerapkan pelajaran. Dalam hal ini bagaimanakah peranan yang seharusnya guru lakukan agar tujuan dari pembelajaran ini dapat diterapkan oleh siswa?
- Apakah model pembelajaran kolaboratif sudah cocok untuk diterapkan pada semua jenjang pendidikan?
- Penerapan model pembelajaran kontektual biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga pembelajaran berjalan lambat, lalu bagaimana cara anda mengatasi hal ini?
Sumber:
- https://alkautsarkalebbi.wordpress.com/2014/05/07/model-pembelajaran-kontekstual-contextual-teaching-and-learning/ (12-09-2018)
- https://simdigbs.wordpress.com/2015/01/14/pembelajaran-kolaboratif/. (12-09-2018)
2 September 2018 23.19
ReplyDeleteBaik saudara, saya akan mencoba menanggapi pertanyaan saudara dipoint 1, sebagaimana kita ketahui disini tupoksi seorang guru yaitu, sebagai fasilitator, mengawasi,membimbing serta memberikan inovasi baru terhadap pembelajaran yg siswa lakukan, supaya siswa dapat mengaplikasikan pembelajaran tersebut, sebaiknya para guru atau pihak sekolah mensosialisasikan atau berkolaborasi dg org tua siswa mereka masing" sehingga nantinya siswa tersebut juga dapat dipantau dan dibimbing oleh org tuanya dirumah atau dilingkungan mereka masing"dan bisa juga dibuatkan semacam tugas(pekerjaan dirumah) supaya siswa dapat melaksanakan pembelajaran dirumahnya masing atau berkelompok.
Terimakasih atas jawabanya mas roni,
DeleteSaya setuju akan jawaban yang anda berikan namun disuatu sisi saya melihat realita yang ada ketika pihak sekolah mensosialisasikan kepada wali murid, ada wali murid tersebut bukan wali yang sebenarnya melainkan orang yang dibayar oleh murid untuk menghadiri sosialisasi yang diberikan, ada yang orang tuanya datang tapi tidak bisa mengawasi sepenuhnya ketika anaknya bersekolah hal ini biasanya terjadi pada anak sekolah yang kost atau jauh dari orang tua, sehingga sosialisasi tersebut terkesan sebagai angin lalu bagi siswa. Guru juga tidak bisa memantau secara penuh ketika mereka di luar sekolah itu kembali ke orang tuanya & yang kos biasanya kembali ke inisiatif individunya sendiri.
Saya tertarik dengan soal nomor 2 menurut pendapat saya model kolaboratif bagus di terapkan di jenjang menengah pertama hingga perguruan tinggi karna ini akan membuat siswa lebih kritis dan lebih termotivasi dalam belajar dan membuat siswa siswi lebih mengetahui kekurangan dan kelebihannya sendiri.terimakasih!
ReplyDeleteTerimakasih atas jawabannya,
DeleteUntuk penerapan model kalaboratif pada sekolah tingkat menengah pertama terkhusus pada kelas 7 mereka akan canggung & tidak responsif dalam model ini karena model ini baru bagi mereka, sebagai guru yang menerapkan model ini pada kelas tsb, bagaimana cara kita untuk dapat membuat siswa aktif & dapat mengikuti dengan baik model pembelajaran yang diterapkan ini karena bagi mereka ini merupakan pengalaman yang baru..
Saya setuju dgn pendApat saudari lailatul hairi... bahwasanya
ReplyDeleteModel pembelajaran kolabaratif tidak bisa diterapkan disemua jenjang pendidikan adakalanya bisa diterapkan disuatu jenjang dan sebaliknya, hal ini karena didalam model pembelajaran kolaboratif kegiatan belajar kelompok lebih diutamakan. Berhasil atau tidaknya tujuan pembelajaran sangat ditentukan oleh keberhasilan diskusi mereka. Misalnya siswa sd yang pada dasarnya belum memiliki rasa tanggung jawab dan cenderung lebih suka bersenang-senang akan kesulitan jika disuruh belajar sendiri apalagi untuk belajar secara berkelompok.
Terimakasih
Terimakasih atas masukan yang telah disampaikan, semoga proses pencerdasan peserta didik dapat berjalan dengan sebaik & memberikan efek yang nyata bagi peserta didik.
DeleteSaya menanggapi pertanyaan no.3 .. itu smua di atur oleh guru sebagai org yg mempimpin dalam diskusi tersebut. Guru sudah membuat RPP yang dilengkapi alokasi waktu yang sudah ditetapkan. Dan guru menjelaskan berapa lama waktu dalam diskusi. Dan terus mengingatkan siswa utk berapa lama waktu tersisa sehingga siswa hrus tepat waktu dalam menyelesaikan diskusi. Jika guru tidak melakukan hal tersebut. Maka siswa tidak akan tau brp lama waktu yang digunakan dalam diskusi. Bahkan tidak menutup kemungkinan ada siswa yang memang sengaja mengulur waktu diskusi agar dapat dilanjutkan pd pertemuan selanjutnya padahal kita perlu menyelesaikan diskusi utk segera dievaluasi pada pertemuan itu jg.
ReplyDeleteSaya melihat realita yang ada dilapangan meski guru sudah membuat RPP yang dilengkapi alokasi waktu yang sudah ditetapkan namun dalam penerapannya tidak selalu sesuai dengan apa yang sudah direncanakan,saya menilai perencanaan alokasi waktu itu hanya bersifat perkiraan bukan berarti seya tidak setuju dengan rpp & alokasi waktu yg sudah dibuat sedemikian rupa. Dengan demikian alokasi waktu tidaklah mutlak untuk dijadikan patokan meski pada situasi tertentu sesuai untuk harus diikut namun adakalanya tidak sesuai.
DeleteBila siswa banyak yang belum mengerti tidak etis jika seorang guru langsung pada materi selanjutnya,, lalu bagaimana pendapat anda mengenai ini..
Hapus
Kedua model ini sangat menarik untuk didiskusikan
ReplyDeleteSaya coba memberi pendapat atas pertanyaan nomor satu
Peran guru dalam pembelajaran konkontekstual adalah:
Merancang pembelajaran yang dapat membuat siswa mengkonstruksi pengetahuan, kemudian mereka dapat menghubungkan pengtahuan tersebut dengan permasalahan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
2. Menjadi fasilitator saat kegiatan pembelajaran
3. Membantu siswa memecahkan masalah kontekstual sehingga pembelajaran menjadi bermakna
Terimakasih atas masukan dan pencerahannya, sangat bermanfaat...
Deleteuntuk pertanyaan no 1 guru sebaiknya sebelum memilih masalah yang seringkali dialami, kemudian juga perlu memahami tipe belajar dalam dunia siswa, artinya guru perlu menyesuaikan dengan gaya belajar siswa. Dalam proses pembelajaran konvensional hal ini sering terlupakan, sehingga proses pembelajaran tidak ubahnya sebagai proses pemaksaan kehendak.
ReplyDeleteSebagai guru dan orang tua kita menginginkan siswa / anak untuk jadi orang yang baik dari segala hal, dengan memberikan tanggung jawab seperti halnya penugasan tanpa itu siswa / anak akan terkesan manja & kurang tanggug jawab maka dari sisi orang tua & guru memang agak terkesan memaksakan kehendak akan tetapi tanpa adanya suatu misi yang harus diselesaikan siswa/ peserta didik bukankah akan membuat anak tersebut kurang tanggung jawab & hal2 lainya tidak sesuai dengan harapan yang diharapkan, sedang diarahkan saja anak peserta didik masih banyak yang kurang baik itu segi sikap, kecerdasan, etika dan sosialnya....
DeleteSependapat dengan sdri bestia dan odian.
DeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteArtikel yang sangat menarik. Saya akan menanggapi pertanyaan no 2.penerapan model pembelajaran kontektual biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga pembelajaran berjalan lambat, lalu bagaimana cara anda mengatasi hal ini? Cara mengatasi guru harus bisa mengatur waktu. Sebelum menerapkan model kontektual sudah dirancang ssdemikian rupa. Terima kasih
ReplyDelete@Rohana: Cara megatasi masalah ini adalah dengan membuat target dan mengacu pada waktu yang telah disepakati pada RPP, melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan waktu yang telah menjadi acuan dalam RPP. Disinilah fungsi guru harus bisa efektif dan efesien dalam menerapkan pembelajaran dan meminimalisir pemborosan waktu.
DeleteMenurut saya model kolaboratif bagus di terapkan di jenjang menengah pertama hingga perguruan tinggi karna ini akan membuat siswa lebih kritis dan lebih termotivasi dalam belajar dan membuat siswa siswi lebih mengetahui kekurangan dan kelebihannya sendiri
ReplyDeletesaya setuju dengan pendapat saudari vira bahwa model pembelajaran kolaboratif bagusnya diterapkan disekolah menengah pertama kalau diterapkan disekolah dasar tidak bisa karana sekolah dasar tidak bisa menggunakan model kolaboratif atau melakukan pembelajaran secara berkelompok
Deletesaya akan menanggapi pertanyaan no 2 tentang model pembelajaran kolaboratif sudah cocok untuk diterapkan pada semua jenjang pendidikan belum sepenuhnya karena sesuai kemmapuan jenjang pendidikan misalkan anak sd belum bisa belajar dengan menggunkan kelompok.
ReplyDeletesaya berpendapat sebaiknnya jangan dipaksakan diterpakan DI sekolah dasar
Deletekarena kemapuan anak skolah dasar belum bisa menngikuti dengan baik model tsb
assalamu alaikum, baik saya akan membahas soal nomor 2. saya sependapat dengan beberapa pendapat diatas dimana semua jenjang pendidikan sangat cocok di laksanakan di berbagai jenjang pendidikan.
ReplyDeleteArtikel yang menarik saudara odian, Saya akan menjawab pertanyaan nomor 2. Saya sependapat dengan rekan rekan yang lain kedua model ini dapat dapat digunakan oleh semua jenjang pendidikan.
ReplyDelete