Friday, October 12, 2018

Pembelajaran Khusus Sains


Model Pembelajaran Khusus Sains
Pembelajaran suatu kegiatan yang dirancang oleh guru agar siswa melakukan kegiatan belajar untuk mencapai tujuan atau kompetensi yang diharapkan. Dalam merancang kegiatan pembelajaran ini, seorang guru semestinya memahami karakteristik siswa, tujuan pembelajran yang ingin dicapai atau kompetensi yang harus dikuasai siswa, materi ajar yang akan disajikan, dan cara yang digunakan terus mengemas penyajian materi serta penggunaan bentuk dan jenis penilaian yang akan dipilih untuk melakukan pengukuran terhadap ketercapaian tujuan pembelajaran atau kompetensi yang telah dimiliki siswa.
Model pembelajaran diartikan sebagai prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Dapat juga diartikan suatu pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Jadi, sebenarnya model pembelajaran memiliki arti yang sama dengan pendekatan, strategi atau model pembelajaran. Saat ini telah banyak dikembangkan berbagai macam model pembelajaran, dari yang sederhana sampai model yang agak kompleks dan rumit karena memerlukan banyak alat bantu dalam penerapannya.
Model pembelajaran (Teaching Models) atau (Models of Teaching) memiliki makna lebih luas dari metode, strategi/pendekatan dan prosedur. Istilah model pembelajaran adalah pendekatan tertentu dalam pembelajaran yang tercakup dalam tujuan, sintaks, lingkungan dan sistem manajemen (Arends, 1997:7)
1.      Model Pembelajaran Langsung
Pembelajaran langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan pembelajaran siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklarasi yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah.

Sintaks model pembelajaran langsung adalah sebagai berikut
Fase
Peran Guru
     menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa
Guru menjelaskan tujuan, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar
     mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan
Guru mendemonstrasikan keterampilan atau menyajikan informasi setahap demi setahap
     membimbing pelatihan
Guru memberikan pelatihan awal
      mengecek pemahaman dan pemberian umpan balik
Mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik
     memberi kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan
Guru mempersiapkan kesempatan untuk melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan untuk situasi lebih kompleks dalam kehidupan sehari-hari

2.      Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif sangat berbeda dengan pembelajaran langsung. Model ini dapat digunakan untuk mengajarkan materi yang agak kompleks dan lebih tinggi lagi. Model pembelajaran kooperatif dapat membantu guru untuk mencapai tujuan model pembelajaran kooperatif.
Fase
Peran Guru
      menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar  
      menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan
      mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok belajar
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membentuk setiap kelompok agar melakukan transisi secara efesien
       membimbing kelompok belajar untuk bekerja dan belajar
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas    
      Evaluasi
Guru mengevalusi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
      Memberikan Penghargaan
Guru menggunakan cara-cara yang sesuai untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok

3.      Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Model ini tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Model ini dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, keterampilan intelektual, belajar berperan berbagai orang dewasa melalui pelibatan siswa dalam pengalaman nyata atau simulasi dan menjadi self-regulated kearner.

Sintaks model pembelajaran berdasarkan masalah
Fase
Peran Guru
    Orientasi siswa kepada masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan segala hal yang akan dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya
     Mengorganisasi siswa untuk belajar
Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah
    Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen atau pengamatan untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah
    Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai, melaksanakan eksperimen atau pengamatan untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah
    Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan

4.      Model Pembelajaran STS
Model STS merupakan suatu inovasi model didalam pengajaran sains. STS dikemukakan oleh John Ziman dalam bukunya Teaching and Learning About Science and Society pada tahun 1980 (Poedjiadi, 2007). Pembelajaran STS menggunakan teknologi sebagai penghubung antara sains dan masyarakat, yang memberikan pengalaman pada siswa sehingga proses belajar akan terpusat pada siswa. Model pembelajaran STS merupakan model pembelajaran yang dapat mengaitkan antara sains dan teknologi, keterkaitan antara sains dan teknologi akan menghasilkan pengetahuan dasar yang dibutuhkan untuk mengembangkan teknologi, dan pengembangan teknologi dapat menghasilkan cara atau solusi untuk memecahkan masalah sains yang ada.

Pendidikan sains melalui model STS tidak hanya menekankan pada penguasaan konsep namun juga menekankan pada peran sains dan teknologi diberbagai kehidupan di masyarakat dan menumbuhkan sikap dan tanggung jawab sosial terhadap dampak sains dan teknologi yang terjadi di masyarakat. STS merupakan pengetahuan interdisiplin. Pengetahuan antara sains teknologi masyarakat akan menumbuhkan kepedulian seseorang terhadap masalah-masalah yang berhubungan dengan sains, teknologi, dan kesejahteraan masyarakat.

Ciri pembelajaran sains melalui Model STS adalah munculnya isu social diawal pembelajaran mengenai konsep pelajaran yang akan diajarkan, kemudian menerapkan konsep-konsep sains yang telah dimiliki dalam memecahkan masalah persoalan dimasyarakat yang menyangkut sains dan teknologi. Sejalan dengan hal tersebut Poedjiadi (2005) menyatakan bahwa belajar dengan pembelajaran STS merupakan perubahan tingkah laku siswa setelah berinteraksi dengan lingkungan dan memperoleh konsep-konsep dan mengaitkan konsep-konsep sains dengan kepentingan masyarakat. Pengaitan pembelajaran sains dengan teknologi serta kegunaan dan kebutuhan dalam masyarakat, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman konsep-konsep yang telah dipelajari dan dikuasai siswa sehingga bermanfaat bagi dirinya dan dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya maupun masalah lingkungan sosialnya. Pembelajaran yang diberikan masih mengacu pada konsep-konsep yang ada dalam kurikulum, guru merancang suatu kegiatan sehingga siswa memperoleh suatu kesempatan untuk menumbuhkan kepekaan dirinya terhadap masalah pokok yang dihadapi, mendapat pengalaman aktif mencari informasi melalui kegiatan pembelajaran untuk menemukan kesimpulan atau jawaban dari masalah pokok yang dihadapi sehingga dapat memberikan saran dan memunculkan keaktifan siswa. Model pembelajaran STS merupakan upaya untuk menumbuhkan penguasaan sains dan teknologi.

5.      Model Pembelajaran Konstruktivisme
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan, Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.

Kelebihan
a.      Menjadikan siswa berfikir tentang pengetahuan baru, bias menyeesaikan masalah, dan bias berfikir dan membuat keputusan
b.     Menjadikan siswa paham dengan materi yang disampaikan
c.      Siswa mempunyai nilai tambah yang lebih yaitu bisa mengingat materi yang disampaikan karena siswa sendiri yang aktif
d.     Melatih untuk berinteraksi social seperti dengan teman kelompok,  dan guru Karena siswa terlibat secara terus, mereka akan paham, ingat, yakin dan berinteraksi dengan lingkungannya, maka mereka akan berasa meningkatkan belajar untuk membina pengetahuan baru.

Kelemahan
Kekurangan atau kelemahan dalam suatu penerapan metode pembelajaran tergantung pada guru sebagai pelaksana metode. Pada metode kontruktivisme guru berperan hanya sebagai pendukung bukan sebagai hal utama. Fokus konstruktivisme hanya ketika proses pembelajaran itu terjadi.

6.      Problem Solving
Model pembelajaran problem solving adalah cara mengajar yang dilakukan dengan cara melatih para murid menghadapi berbagai masalah untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama – sama (Alipandie, 1984:105). Menurut N.Sudirman (1987:146) model pembelajaran problem solving adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dan disintesis dalam usaha untuk mencari pemecahan atau jawabannya oleh siswa.
Kelebihan 
a.       Melatih peserta didik untuk mendesain suatu penemuan
b.      Berpikir dan bertindak kreatif.
c.       Memecahkan masalah secara realistis.
d.      Mengeidentifikasi dan melakukan penyelidikan.
e.       Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
f.        Merangsang perkembangan kemajuan berpikir peserta didik untuk menyelesaikanmasalah yang dihadapi dengan tepat.
g.      Membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan khususnya duniakerja.
Kekurangan
a.       Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini. Keterbatasanalat di laboratorium menyulitkan peserta didik untuk melihat dan mengamati sertadapat menyimpulkan kejadian atau konsep tertentu. 
b.      Membutuhkan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain.
7.      Model pembelajaran discovery
Penemuan adalah terjemahan dari discovery. Menurut Sund ”discovery adalah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip”. Proses mental tersebut ialah, membuat kesimpulan dan sebagainya. Sedangkan menurut Jerome Bruner ”penemuan adalah suatu proses, suatu jalan/cara dalam mendekati permasalahan bukannya suatu produk atau item pengetahuan tertentu”. Dengan demikian di dalam pandangan Bruner, belajar dengan penemuan adalah belajar untuk menemukan, dimana seorang siswa dihadapkan dengan suatu masalah atau situasi yang tampaknya ganjil mengamati, mencerna, mengerti, mengolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur sehingga siswa dapat mencari jalan pemecahan.
Model penemuan terbimbing menempatkan guru sebagai fasilitator. Guru membimbing siswa dimana ia diperlukan. Dalam model ini, siswa didorong untuk berpikir sendiri, menganalisis sendiri sehingga dapat ”menemukan” prinsip umum berdasarkan bahan atau data yang telah disediakan guru. Model penemuan terbimbing atau terpimpin adalah model pembelajaran penemuan yang dalam pelaksanaanya dilakukan oleh siswa berdasarkan petunjuk-petunjuk guru. Petunjuk diberikan pada umumnya berbentuk pertanyaan membimbing.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa model penemuan terbimbing adalah model pembelajaran yang dimana siswa berpikir sendiri sehingga dapat ”menemukan” prinsip umum yang diinginkan dengan bimbingan dan petunjuk dari guru berupa pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan ciri utama belajar menemukan yaitu: (1) mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan; (2) berpusat pada siswa; (3) kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.

Langkah-langkah Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing
Agar pelaksanaan model pembelajaran penemuan terbimbing ini  berjalan dengan efektif, beberapa langkah yang mesti ditempuh oleh guru matematika adalah sebagai berikut :
a.             Merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan data secukupnya,  perumusannya harus jelas, hindari pernyataan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yang ditempuh siswa tidak salah.
b.              Dari data yang diberikan guru, siswa menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisis data tersebut. Dalam hal ini, bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang diperlukan saja. Bimbingan ini sebaiknya mengarahkan siswa untuk melangkah ke arah yang hendak dituju, melalui pertanyaan-pertanyaan, atau LKS.
c.             Siswa menyusun konjektur (prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukannya.
d.            Bila dipandang perlu, konjektur yang telah dibuat siswa tersebut diatas diperiksa oleh guru. Hal ini penting dilakukan untuk meyakinkan kebenaran prakiraan siswa, sehingga akan menuju arah yang hendak dicapai.
e.             Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur tersebut, maka verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan juga kepada siswa untuk menyusunya. Disamping itu perlu diingat pula bahwa induksi tidak menjamin 100% kebenaran konjektur.
f.              Sesudah siswa menemukan apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal tambahan untuk memeriksa apakah hasil penemuan itu benar.

Kelebihan dan kekurangan Model Pembelajaran Penemuan
Memperhatikan Model Penemuan Terbimbing tersebut diatas dapat disampaikan kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Kelebihan dari Model Penemuan Terbimbing adalah sebagai  berikut:
a.             Siswa dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran yang disajikan.
b.             Menumbuhkan sekaligus menanamkan sikap inquiry (mencari-temukan).
c.             Mendukung kemampuan problem solving siswa.
d.            Memberikan wahana interaksi antar siswa, maupun siswa dengan guru, dengan demikian siswa  juga terlatih untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
e.              Materi yang dipelajari dapat mencapai tingkat kemampuan yang tinggi dan lebih lama membekas karena siswa dilibatkan dalam proses menemukanya.
f.              Siswa belajar bagaimana belajar (learn how to learn).
g.             Belajar menghargai diri sendiri.
h.             Memotivasi diri dan lebih mudah untuk mentransfer.
i.               Pengetahuan bertahan lama dan mudah diingat.
j.               Hasil belajar discovery mempunyai efek transfer yang lebih baik dari pada hasil lainnya
k.             Meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir bebas.
Melatih keterampilan-keterampilan kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain.
            Sementara itu kekurangannya adalah sebagai berikut :
a.       Untuk materi tertentu, waktu yang tersita lebih lama.
b.      Tidak semua siswa dapat mengikuti pelajaran dengan cara ini. Di lapangan, beberapa siswa masih terbiasa dan mudah mengerti dengan model ceramah.
c.       Tidak semua topik cocok disampaikan dengan model ini. Umumnya topik-topik yang  berhubungan dengan prinsip dapat dikembangkan dengan Model Penemuan Terbimbing.

8.      Model pembelajaran Inquiri
Kata inquiri barasal dari bahasa inggris “inquiry” berarti pertanyaan, pemeriksaan, atau penyelidikan. Model pembelajaran inquiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang di pertanyakan . proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa. Strategi pembelajaran ini juga sering dinamakan strategi heuristic, yang berasal dari kata yunani, heuriskein yang berarti saya menemukan (Sanjaya,2006).
Menurut Piaget bahwa model pembelajaran inquiri adalah model pembelajaran yang mempersiapkan siswa pada situasi  untuk melakukan eksperimen sendiri: dalam arti luas ingin melihat apa yang terjadi, atau ingin melakukan sesuatu, ingin menggunakan simbol-simbol dan mencari jawaban atas pertanyaan sendiri, menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, dan membandingkan apa yang di temukan dengan yang di temukan orang lain.
Berdasarkan definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran inquri adalah merupakan suatu proses yang ditempuh siswa untuk memecahkan suatu masalah, merencanakan eksperimen dan melakukan eksperimen,menyimpulken dan menganalisis data,dan menarik kesimpulan. Jadi dalam model inquiri ini siswa terlibat secara mental, maupun fisik untuk memecahkan suatu permasalahan yang di berikan oleh guru. Dengan demikian siswa akan terbiasa bersikap seperti para ilmuan sains,yaitu teliti, tekun/ulet, objektif/jujur, kreatif dan menghormati pendapat orang lain.
Langkah-langkah pendekatan inquiri
Sesuai dengan pokok bahasan yang telah di uraikan diatas,maka langkah-langkah yang di tempuh dalam pembelajaran dengan menggunakan model inquiri adalah;
A.    Orientasi
Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru mengondisikan agar siswa tiap melaksanakan proses pembelajaran. Berbeda dengan tahapan preparation dalam pembelajaran ekspositori (SPE) sebagai langkah untuk mengondisikan agar siswa siswa siap menerima pelajaran, pada langkah orientasi dalam SPI, guru merangsang dan mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah. Langkah orientasi merupakan langkah yang snagta penting. Keberhasilan sangat bergantung pada kemauan siswa untuk beraktivitas menggunakan kemampuannya dalam mememcahkan masalah,tanpa kemauan dan kemampuan itu tidak akan mungkin proses pembeljaran akan berjalan lancar.
c.       Merumuskan masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka teki. Persoalan yang di sajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka-teki itu. Dikatakan teka-teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabany, dan siswa di dorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam model pembelajaran inquiri ini, oleh sebab itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir.
d.      Merumuskan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang di kaji. Sebagai jawaban sementara,hipotesis perlu diuji kebenarannya.kemampuan atau potensi individu untuk berpikir pada dasarnya sudah dimilikisejak individu itu lahir.potensi berpikir itu dimulai dari kemampuan setiap individu untuk menenbak atau mengira-ngira (berhipotesis) dari suatu permasalahan. Manakala individu dapat membuktikan tebakannya, maka ia akan sampai pada posisi yang bisa mendorong untuk berpikir lebih lanjut. Oleh,sebab itu potensi untuk mengembangkan kemampuan menebak pada setiap individu harus dibina. Salah satu cara dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menbak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji. Perkiraan sebagai hipotesis bukan sembarang perkiraan,tetapi harus memiliki landasan berpikir yang kokoh,sehingga hipotesis yang di munculkan itu bersifat rasional dan logis.kemampuan berpikir logis itu sendiri akan sangat dipengaruhi oleh kedalaman wawasan yang dimiliki serta keluasan pengalaman.dengan demikian, setiap individu yang kurang mempunyai wawasan akan sulit mengembangkan hipotesis yang logis dan rasional.
e.       Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan.dalam strategi pembelajaran inquiri, mengumpulkan data merupakan proses yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya.oleh sebab itu, tugas dan peran guru dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan . sering terjadi kemacetan berinkuiri adalah manakala guru menemukan gejala-gejala semacam ini, maka guru hendaknya secara terus-menerus memberikan dorongan kepada siswa untuk belajar melalui penyuguhan berbagai jenis pertanyaan secara merata kepada seluruh siswa sehingga mereka merangsang untuk berpikir.
f.       Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang di peroleh berdasarkan pengumpulan data. Yang terpenting dalam menguji hipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan. Disamping itu, menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus di dukung oleh data yang di temukan dan dapat di pertangung jawabkan.
g.      Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah prose smendeskrisikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan proses pembelajaran. Sering,terjadi oleh karena banyaknya data yang di peroleh,menyebabkan kesimpulan yang dirumuskan tidak fokus terhadap masalah yang endak dipecahkan. Oleh karena itu, untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data yang mana yang relevan.
Keunggulan dan kelemahan model pembelajaran inquiri
Model pembelajaran inquiri merupakan model pembelajaran yang banayak diajarkan, karena model ini memiliki berberapa keunggulan, diantaranya :
a.       Model pembelajaran inquiri ini merupakan model pembelajran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif,afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini di anggap lebih bermakna.
b.       Model pembelajaran inquiri ini dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuia dengan gaya belajar mereka.
c.        Model pembelajaran inquiri ini merupakan model yang dianggap sesuai dengan perkemban psikologi belajar modren yang mengangap belajar adalah prose perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
d.      Keuntungan lainya adalah, model pembelajaran ini dpat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.

Disamping memiliki keunggulan model pembelajaran inquiri ini juga memiliki kelemahan, diantaranya :
a.       Jika model pembeljaran inquiri ini digunakan sebagai model pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
b.      Model pembeljaran ini juga sulit dalam merencanakan pembelajaran dikarenakan terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
c.       Kadan-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah di tentukan.
d.      Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka model pembelajaran inquiri ini akan sulit di implementasikan oleh setiap guru.

Sumber:
2. http://noviirwan.blogspot.com/2016/09/model-pembelajaran-khusus-sains.html



Dari uraian mengenai model pembelajaran khas sains diatas yang ingin saya diskusikan yaitu:
1.   Apakah yang membedakan model pembelajaran khas sains dengan model pembelajaran lainnya
2.   Bagaimana cara mengatasi kelemahan dalam model pembelajaran khas sain ini?
3.   Efektifkah model ini?

11 comments:

  1. assalamualaiaikum, topik yang sangat menarik. saya akan mencoba diskusi point 1. yang membedakan model pembelajaran khusus sains dengan model pembelajaran lain adalah langkah-langkah atau sintaks pembelajaran yang digunakan sesuai dengan langkah -langkah pada metode ilmiah.

    ReplyDelete
  2. waqalaikumslm,wr,wb.
    Terimakasih atas jawabannya,
    Dapat disimpulkan berarti pada setiap model pembelajaran yang membedakan dengan model pembelajaran sains adalah disintaknya, bagaimana jika model pembelajaran sain digunakan pada pelajaran di luar sains seperti pada pelajaran sosiologi apakah bisa diterapkan atau perlu modifikasi syntak..

    ReplyDelete
  3. Yang membedakan pembelajaran khusus sain dng yang lainya iyalah di lihat dari sintak2nyaa

    ReplyDelete
  4. Dapat disimpulkan perbedaan dari tiap model itu terletak pada sintak model pembelajarannya.

    ReplyDelete
  5. Setiap model pembelajaran yang diterapkan ke peserta didik semua itu sebenarnya sudah efektif tinggal penerapan yang filakukan oleh gurunya lagi, apakah dia bisa menguasai model n materi yang diterapkan dan diajarkan atau tidak..
    Setiap model pembelajaran sudah di buktikan oleh penciptanya bahwa model tersebut berhasil jadi mau model pembelajaran apapun itu menurut saya afektif kembali lagi dengan yang menerapkannya mampu atau tidak.

    ReplyDelete
  6. Artikel yang sangat menarik. Saya akan menanggapi pertanyaan no 3. Semua model efektif diterapkan.tergantung gurunya nya menyesuaikan dengan materi pembelajaran dan dan memodifikasi model pembelajarannya. Terima kasih

    ReplyDelete
  7. Sya akan menanggapi soal no 3.
    Semua model itu efektif untuk digunakan tetapi sebaiknya guru harus mencocokan terlebih dahulu materi dng model yg akan digunakan agar proses kbm dpt berjalan sesuai harapan dan materi yg disampaikan bisa dipahami oleh setiap siswa.

    ReplyDelete
  8. Artikelnya sangat bermanfaat, mnurut saya yang membedakan model pembelajaran khusus sains dengan model pembelajaran lain adalah langkah-langkah atau sintaks pembelajaran yang digunakan sesuai dengan langkah -langkah pada metode ilmiah.

    ReplyDelete
  9. saya akan menanggapi pertanyaan no 2 tentang cara mengatasi kelemahan dalam model pembelajaran khas sains yaitu guru harus mengerti dengan langkah-langkah dalam proses pembelajaran sains, perlunya arahan dari guru.

    ReplyDelete
  10. untuk soal nomor 3, ke efektifan model tergantung bagaimana guru memonitor siswanya, keaktifan siswa, dan penguasaan model pembelajaran

    ReplyDelete
  11. Yg membedakan adalah sinyak pd model
    terimakasih

    ReplyDelete

Sistem Penilaian Proses Pembelajaran Sains "OdiATmb"

 Sistem Penilaian Proses Pembelajaran Sains  A.  Pengertian Penilaian Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, men...