Model Pembelajaran Khusus Sains
Pembelajaran
suatu kegiatan yang dirancang oleh guru agar siswa melakukan kegiatan belajar
untuk mencapai tujuan atau kompetensi yang diharapkan. Dalam merancang kegiatan
pembelajaran ini, seorang guru semestinya memahami karakteristik siswa, tujuan
pembelajran yang ingin dicapai atau kompetensi yang harus dikuasai siswa,
materi ajar yang akan disajikan, dan cara yang digunakan terus mengemas
penyajian materi serta penggunaan bentuk dan jenis penilaian yang akan dipilih
untuk melakukan pengukuran terhadap ketercapaian tujuan pembelajaran atau
kompetensi yang telah dimiliki siswa.
Model
pembelajaran diartikan sebagai prosedur sistematis dalam mengorganisasikan
pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Dapat juga diartikan suatu
pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Jadi, sebenarnya model
pembelajaran memiliki
arti yang sama dengan pendekatan, strategi atau model
pembelajaran. Saat ini
telah banyak dikembangkan berbagai macam model pembelajaran, dari yang
sederhana sampai model yang agak kompleks dan rumit karena memerlukan banyak
alat bantu dalam penerapannya.
Model pembelajaran (Teaching Models) atau (Models
of Teaching) memiliki makna lebih luas dari metode, strategi/pendekatan dan
prosedur. Istilah model pembelajaran adalah pendekatan tertentu dalam
pembelajaran yang tercakup dalam tujuan, sintaks, lingkungan dan sistem
manajemen (Arends, 1997:7)
1.
Model Pembelajaran Langsung
Pembelajaran langsung dirancang secara
khusus untuk mengembangkan pembelajaran siswa tentang pengetahuan prosedural
dan pengetahuan deklarasi yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari
selangkah demi selangkah.
Sintaks model pembelajaran langsung
adalah sebagai berikut
Fase
|
Peran Guru
|
menyampaikan tujuan dan mempersiapkan
siswa
|
Guru menjelaskan tujuan, informasi latar belakang
pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar
|
mendemonstrasikan pengetahuan atau
keterampilan
|
Guru mendemonstrasikan keterampilan atau menyajikan
informasi setahap demi setahap
|
membimbing
pelatihan
|
Guru memberikan pelatihan awal
|
mengecek
pemahaman dan pemberian umpan balik
|
Mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas
dengan baik, memberi umpan balik
|
memberi
kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan
|
Guru mempersiapkan kesempatan untuk melakukan pelatihan
lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan untuk situasi lebih kompleks
dalam kehidupan sehari-hari
|
2.
Model Pembelajaran Kooperatif
Model
pembelajaran kooperatif sangat berbeda dengan pembelajaran langsung. Model ini
dapat digunakan untuk mengajarkan materi yang agak kompleks dan lebih tinggi
lagi. Model pembelajaran kooperatif dapat membantu guru untuk mencapai tujuan
model pembelajaran kooperatif.
Fase
|
Peran Guru
|
menyampaikan
tujuan dan memotivasi siswa
|
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi
siswa untuk belajar
|
menyajikan
informasi
|
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan
demonstrasi atau lewat bahan bacaan
|
mengorganisasikan
siswa dalam kelompok-kelompok belajar
|
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya
membentuk kelompok belajar dan membentuk setiap kelompok agar melakukan
transisi secara efesien
|
membimbing
kelompok belajar untuk bekerja dan belajar
|
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat
mereka mengerjakan tugas
|
Evaluasi
|
Guru mengevalusi hasil belajar tentang materi yang
telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
|
Memberikan
Penghargaan
|
Guru menggunakan cara-cara yang sesuai untuk menghargai
baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok
|
3.
Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Model ini tidak
dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada
siswa. Model ini dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan
berpikir, pemecahan masalah, keterampilan intelektual, belajar berperan
berbagai orang dewasa melalui pelibatan siswa dalam pengalaman nyata atau
simulasi dan menjadi self-regulated kearner.
Sintaks model pembelajaran berdasarkan masalah
Fase
|
Peran Guru
|
Orientasi siswa kepada masalah
|
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan segala
hal yang akan dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan
masalah yang dipilihnya
|
Mengorganisasi siswa untuk belajar
|
Guru membantu siswa mendefinisikan dan
mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah
|
Membimbing penyelidikan individual
maupun kelompok
|
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang
sesuai, melaksanakan eksperimen atau pengamatan untuk mendapatkan penjelasan
dan pemecahan masalah
|
Mengembangkan dan menyajikan hasil
karya
|
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan
karya yang sesuai, melaksanakan eksperimen atau pengamatan untuk mendapatkan
penjelasan dan pemecahan masalah
|
Menganalisis dan mengevaluasi proses
pemecahan masalah
|
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau
evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan
|
4.
Model
Pembelajaran STS
Model STS merupakan suatu inovasi model didalam pengajaran
sains. STS dikemukakan oleh John Ziman dalam bukunya Teaching and
Learning About Science and Society pada tahun 1980 (Poedjiadi, 2007).
Pembelajaran STS menggunakan teknologi sebagai penghubung antara sains dan
masyarakat, yang memberikan pengalaman pada siswa sehingga proses belajar akan
terpusat pada siswa. Model pembelajaran STS merupakan model pembelajaran yang
dapat mengaitkan antara sains dan teknologi, keterkaitan antara sains dan
teknologi akan menghasilkan pengetahuan dasar yang dibutuhkan untuk
mengembangkan teknologi, dan pengembangan teknologi dapat menghasilkan cara atau
solusi untuk memecahkan masalah sains yang ada.
Pendidikan sains melalui model STS tidak hanya menekankan pada
penguasaan konsep namun juga menekankan pada peran sains dan teknologi
diberbagai kehidupan di masyarakat dan menumbuhkan sikap dan tanggung jawab
sosial terhadap dampak sains dan teknologi yang terjadi di masyarakat. STS
merupakan pengetahuan interdisiplin. Pengetahuan antara sains teknologi masyarakat
akan menumbuhkan kepedulian seseorang terhadap masalah-masalah yang berhubungan
dengan sains, teknologi, dan kesejahteraan masyarakat.
Ciri pembelajaran sains melalui Model STS adalah munculnya
isu social diawal pembelajaran mengenai konsep pelajaran yang akan diajarkan,
kemudian menerapkan konsep-konsep sains yang telah dimiliki dalam memecahkan
masalah persoalan dimasyarakat yang menyangkut sains dan teknologi. Sejalan
dengan hal tersebut Poedjiadi (2005) menyatakan bahwa belajar dengan pembelajaran
STS merupakan perubahan tingkah laku siswa setelah berinteraksi dengan
lingkungan dan memperoleh konsep-konsep dan mengaitkan konsep-konsep sains
dengan kepentingan masyarakat. Pengaitan pembelajaran sains dengan teknologi
serta kegunaan dan kebutuhan dalam masyarakat, diharapkan dapat meningkatkan
pemahaman konsep-konsep yang telah dipelajari dan dikuasai siswa sehingga
bermanfaat bagi dirinya dan dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang
dihadapinya maupun masalah lingkungan sosialnya. Pembelajaran yang diberikan
masih mengacu pada konsep-konsep yang ada dalam kurikulum, guru merancang suatu
kegiatan sehingga siswa memperoleh suatu kesempatan untuk menumbuhkan kepekaan
dirinya terhadap masalah pokok yang dihadapi, mendapat pengalaman aktif mencari
informasi melalui kegiatan pembelajaran untuk menemukan kesimpulan atau jawaban
dari masalah pokok yang dihadapi sehingga dapat memberikan saran dan
memunculkan keaktifan siswa. Model pembelajaran STS merupakan upaya untuk
menumbuhkan penguasaan sains dan teknologi.
5.
Model
Pembelajaran Konstruktivisme
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat
pendidikan, Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup
yang berbudaya modern. Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi)
pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit
demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak
sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau
kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi
pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Kelebihan
a. Menjadikan siswa berfikir tentang
pengetahuan baru, bias menyeesaikan masalah, dan bias berfikir dan membuat
keputusan
b. Menjadikan
siswa paham dengan materi yang disampaikan
c. Siswa
mempunyai nilai tambah yang lebih yaitu bisa mengingat materi yang disampaikan
karena siswa sendiri yang aktif
d. Melatih
untuk berinteraksi social seperti dengan teman kelompok, dan guru
Karena siswa terlibat secara terus, mereka akan paham, ingat, yakin dan
berinteraksi dengan lingkungannya, maka mereka akan berasa meningkatkan belajar
untuk membina pengetahuan baru.
Kelemahan
Kekurangan atau kelemahan dalam
suatu penerapan metode pembelajaran tergantung pada guru sebagai pelaksana
metode. Pada metode kontruktivisme guru berperan hanya sebagai
pendukung bukan sebagai hal utama. Fokus konstruktivisme hanya ketika proses
pembelajaran itu terjadi.
6. Problem Solving
Model pembelajaran problem solving adalah cara mengajar yang
dilakukan dengan cara melatih para murid menghadapi berbagai masalah untuk
dipecahkan sendiri atau secara bersama – sama (Alipandie, 1984:105). Menurut
N.Sudirman (1987:146) model pembelajaran problem solving adalah cara penyajian
bahan pelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan
untuk dianalisis dan disintesis dalam usaha untuk mencari pemecahan atau
jawabannya oleh siswa.
Kelebihan
a.
Melatih
peserta didik untuk mendesain suatu penemuan
b.
Berpikir
dan bertindak kreatif.
c.
Memecahkan
masalah secara realistis.
d.
Mengeidentifikasi
dan melakukan penyelidikan.
e.
Menafsirkan
dan mengevaluasi hasil pengamatan.
f.
Merangsang perkembangan kemajuan berpikir peserta didik untuk
menyelesaikanmasalah yang dihadapi dengan tepat.
g.
Membuat
pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan khususnya duniakerja.
Kekurangan
a.
Beberapa
pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini. Keterbatasanalat di
laboratorium menyulitkan peserta didik untuk melihat dan mengamati sertadapat
menyimpulkan kejadian atau konsep tertentu.
b.
Membutuhkan
alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran
yang lain.
7.
Model pembelajaran discovery
Penemuan adalah terjemahan dari discovery. Menurut Sund
”discovery adalah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu
konsep atau prinsip”. Proses mental tersebut ialah, membuat kesimpulan dan sebagainya.
Sedangkan menurut Jerome Bruner ”penemuan adalah suatu proses, suatu jalan/cara
dalam mendekati permasalahan bukannya suatu produk atau item pengetahuan
tertentu”. Dengan demikian di dalam pandangan Bruner, belajar dengan penemuan
adalah belajar untuk menemukan, dimana seorang siswa dihadapkan dengan suatu
masalah atau situasi yang tampaknya ganjil mengamati, mencerna, mengerti,
mengolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur sehingga siswa dapat
mencari jalan pemecahan.
Model penemuan terbimbing menempatkan guru sebagai
fasilitator. Guru membimbing siswa dimana ia diperlukan. Dalam model ini, siswa
didorong untuk berpikir sendiri, menganalisis sendiri sehingga dapat
”menemukan” prinsip umum berdasarkan bahan atau data yang telah disediakan
guru. Model penemuan terbimbing atau terpimpin adalah model pembelajaran
penemuan yang dalam pelaksanaanya dilakukan oleh siswa berdasarkan
petunjuk-petunjuk guru. Petunjuk diberikan pada umumnya berbentuk pertanyaan
membimbing.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa model penemuan
terbimbing adalah model pembelajaran yang dimana siswa berpikir sendiri
sehingga dapat ”menemukan” prinsip umum yang diinginkan dengan bimbingan dan
petunjuk dari guru berupa pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan ciri utama
belajar menemukan yaitu: (1) mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk
menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan; (2) berpusat pada
siswa; (3) kegiatan untuk menggabungkan
pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.
Langkah-langkah
Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing
Agar
pelaksanaan model pembelajaran penemuan terbimbing ini berjalan dengan
efektif, beberapa langkah yang mesti ditempuh oleh guru matematika adalah
sebagai berikut :
a.
Merumuskan
masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan data secukupnya,
perumusannya harus jelas, hindari pernyataan yang menimbulkan salah
tafsir sehingga arah yang ditempuh siswa tidak salah.
b.
Dari data yang diberikan guru, siswa menyusun,
memproses, mengorganisir, dan menganalisis data tersebut. Dalam hal ini,
bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang diperlukan saja. Bimbingan ini
sebaiknya mengarahkan siswa untuk melangkah ke arah yang hendak dituju, melalui
pertanyaan-pertanyaan, atau LKS.
c.
Siswa
menyusun konjektur (prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukannya.
d.
Bila
dipandang perlu, konjektur yang telah dibuat siswa tersebut diatas diperiksa
oleh guru. Hal ini penting dilakukan untuk meyakinkan kebenaran prakiraan
siswa, sehingga akan menuju arah yang hendak dicapai.
e.
Apabila
telah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur tersebut, maka
verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan juga kepada siswa untuk menyusunya.
Disamping itu perlu diingat pula bahwa induksi tidak menjamin 100% kebenaran
konjektur.
f.
Sesudah
siswa menemukan apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal latihan atau
soal tambahan untuk memeriksa apakah hasil penemuan itu benar.
Kelebihan dan
kekurangan Model Pembelajaran Penemuan
Memperhatikan Model Penemuan Terbimbing tersebut diatas
dapat disampaikan kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Kelebihan dari
Model Penemuan Terbimbing adalah sebagai berikut:
a.
Siswa
dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran yang disajikan.
b.
Menumbuhkan
sekaligus menanamkan sikap inquiry (mencari-temukan).
c.
Mendukung
kemampuan problem solving siswa.
d.
Memberikan
wahana interaksi antar siswa, maupun siswa dengan guru, dengan demikian siswa
juga terlatih untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
e.
Materi yang dipelajari dapat mencapai tingkat
kemampuan yang tinggi dan lebih lama membekas karena siswa dilibatkan dalam
proses menemukanya.
f.
Siswa
belajar bagaimana belajar (learn how to learn).
g.
Belajar
menghargai diri sendiri.
h.
Memotivasi
diri dan lebih mudah untuk mentransfer.
i.
Pengetahuan
bertahan lama dan mudah diingat.
j.
Hasil
belajar discovery mempunyai efek transfer yang lebih baik dari pada hasil
lainnya
k.
Meningkatkan
penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir bebas.
Melatih keterampilan-keterampilan
kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang
lain.
Sementara
itu kekurangannya adalah sebagai berikut :
a. Untuk materi tertentu, waktu yang
tersita lebih lama.
b. Tidak semua siswa dapat mengikuti
pelajaran dengan cara ini. Di lapangan, beberapa siswa masih terbiasa dan mudah
mengerti dengan model ceramah.
c. Tidak semua topik cocok disampaikan
dengan model ini. Umumnya topik-topik yang berhubungan dengan prinsip
dapat dikembangkan dengan Model Penemuan Terbimbing.
8.
Model pembelajaran Inquiri
Kata inquiri barasal dari bahasa inggris “inquiry”
berarti pertanyaan, pemeriksaan, atau penyelidikan. Model pembelajaran inquiri
adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir
secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari
suatu masalah yang di pertanyakan . proses berpikir itu sendiri biasanya
dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa. Strategi pembelajaran ini
juga sering dinamakan strategi heuristic, yang berasal dari kata
yunani, heuriskein yang berarti saya menemukan (Sanjaya,2006).
Menurut Piaget bahwa model pembelajaran inquiri adalah model
pembelajaran yang mempersiapkan siswa pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri: dalam
arti luas ingin melihat apa yang terjadi, atau ingin melakukan sesuatu, ingin
menggunakan simbol-simbol dan mencari jawaban atas pertanyaan sendiri,
menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, dan membandingkan
apa yang di temukan dengan yang di temukan orang lain.
Berdasarkan definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa
model pembelajaran inquri adalah merupakan suatu proses yang ditempuh siswa
untuk memecahkan suatu masalah, merencanakan eksperimen dan melakukan
eksperimen,menyimpulken dan menganalisis data,dan menarik kesimpulan. Jadi
dalam model inquiri ini siswa terlibat secara mental, maupun fisik untuk
memecahkan suatu permasalahan yang di berikan oleh guru. Dengan demikian siswa
akan terbiasa bersikap seperti para ilmuan sains,yaitu teliti, tekun/ulet,
objektif/jujur, kreatif dan menghormati pendapat orang lain.
Langkah-langkah pendekatan inquiri
Sesuai
dengan pokok bahasan yang telah di uraikan diatas,maka langkah-langkah yang di
tempuh dalam pembelajaran dengan menggunakan model inquiri adalah;
A. Orientasi
Langkah
orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang
responsif. Pada langkah ini guru mengondisikan agar siswa tiap melaksanakan
proses pembelajaran. Berbeda dengan tahapan preparation dalam pembelajaran
ekspositori (SPE) sebagai langkah untuk mengondisikan agar siswa siswa siap
menerima pelajaran, pada langkah orientasi dalam SPI, guru merangsang dan mengajak
siswa untuk berpikir memecahkan masalah. Langkah orientasi merupakan langkah
yang snagta penting. Keberhasilan sangat bergantung pada kemauan siswa untuk
beraktivitas menggunakan kemampuannya dalam mememcahkan masalah,tanpa kemauan
dan kemampuan itu tidak akan mungkin proses pembeljaran akan berjalan lancar.
c. Merumuskan masalah
Merumuskan
masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung
teka teki. Persoalan yang di sajikan adalah persoalan yang menantang siswa
untuk berpikir memecahkan teka-teki itu. Dikatakan teka-teki dalam rumusan
masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabany, dan siswa
di dorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang
sangat penting dalam model pembelajaran inquiri ini, oleh sebab itu melalui
proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai
upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir.
d. Merumuskan Hipotesis
Hipotesis
adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang di kaji. Sebagai
jawaban sementara,hipotesis perlu diuji kebenarannya.kemampuan atau potensi
individu untuk berpikir pada dasarnya sudah dimilikisejak individu itu
lahir.potensi berpikir itu dimulai dari kemampuan setiap individu untuk
menenbak atau mengira-ngira (berhipotesis) dari suatu permasalahan. Manakala
individu dapat membuktikan tebakannya, maka ia akan sampai pada posisi yang
bisa mendorong untuk berpikir lebih lanjut. Oleh,sebab itu potensi untuk
mengembangkan kemampuan menebak pada setiap individu harus dibina. Salah satu
cara dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menbak (berhipotesis)
pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaaan yang dapat
mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan
berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.
Perkiraan sebagai hipotesis bukan sembarang perkiraan,tetapi harus memiliki
landasan berpikir yang kokoh,sehingga hipotesis yang di munculkan itu bersifat
rasional dan logis.kemampuan berpikir logis itu sendiri akan sangat dipengaruhi
oleh kedalaman wawasan yang dimiliki serta keluasan pengalaman.dengan demikian,
setiap individu yang kurang mempunyai wawasan akan sulit mengembangkan
hipotesis yang logis dan rasional.
e. Mengumpulkan data
Mengumpulkan
data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji
hipotesis yang diajukan.dalam strategi pembelajaran inquiri, mengumpulkan data
merupakan proses yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses
pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan
tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi
berpikirnya.oleh sebab itu, tugas dan peran guru dalam tahapan ini adalah
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir
mencari informasi yang dibutuhkan . sering terjadi kemacetan berinkuiri adalah
manakala guru menemukan gejala-gejala semacam ini, maka guru hendaknya secara
terus-menerus memberikan dorongan kepada siswa untuk belajar melalui penyuguhan
berbagai jenis pertanyaan secara merata kepada seluruh siswa sehingga mereka
merangsang untuk berpikir.
f. Menguji hipotesis
Menguji
hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan
data atau informasi yang di peroleh berdasarkan pengumpulan data. Yang
terpenting dalam menguji hipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas
jawaban yang diberikan. Disamping itu, menguji hipotesis juga berarti
mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya kebenaran jawaban yang
diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus di dukung oleh
data yang di temukan dan dapat di pertangung jawabkan.
g. Merumuskan kesimpulan
Merumuskan
kesimpulan adalah prose smendeskrisikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil
pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan proses pembelajaran.
Sering,terjadi oleh karena banyaknya data yang di peroleh,menyebabkan
kesimpulan yang dirumuskan tidak fokus terhadap masalah yang endak dipecahkan.
Oleh karena itu, untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu
menunjukkan pada siswa data yang mana yang relevan.
Keunggulan dan kelemahan model
pembelajaran inquiri
Model pembelajaran inquiri merupakan model pembelajaran yang
banayak diajarkan, karena model ini memiliki berberapa keunggulan, diantaranya :
a. Model pembelajaran inquiri ini
merupakan model pembelajran yang menekankan kepada pengembangan aspek
kognitif,afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui
strategi ini di anggap lebih bermakna.
b. Model pembelajaran inquiri ini dapat
memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuia dengan gaya belajar mereka.
c. Model pembelajaran inquiri ini merupakan model
yang dianggap sesuai dengan perkemban psikologi belajar modren yang mengangap
belajar adalah prose perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
d. Keuntungan lainya adalah, model
pembelajaran ini dpat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan belajar
bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
Disamping memiliki keunggulan model
pembelajaran inquiri ini juga memiliki kelemahan, diantaranya :
a. Jika model pembeljaran inquiri ini
digunakan sebagai model pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan
keberhasilan siswa.
b. Model pembeljaran ini juga sulit
dalam merencanakan pembelajaran dikarenakan terbentur dengan kebiasaan siswa
dalam belajar.
c. Kadan-kadang dalam
mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru
sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah di tentukan.
d. Selama kriteria keberhasilan belajar
ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka model
pembelajaran inquiri ini akan sulit di implementasikan oleh setiap guru.
Sumber:
2. http://noviirwan.blogspot.com/2016/09/model-pembelajaran-khusus-sains.html
Dari uraian mengenai
model pembelajaran khas sains diatas yang ingin saya diskusikan yaitu:
1. Apakah yang membedakan model
pembelajaran khas sains dengan model pembelajaran lainnya
2. Bagaimana cara mengatasi kelemahan dalam
model pembelajaran khas sain ini?
3. Efektifkah model ini?
assalamualaiaikum, topik yang sangat menarik. saya akan mencoba diskusi point 1. yang membedakan model pembelajaran khusus sains dengan model pembelajaran lain adalah langkah-langkah atau sintaks pembelajaran yang digunakan sesuai dengan langkah -langkah pada metode ilmiah.
ReplyDeletewaqalaikumslm,wr,wb.
ReplyDeleteTerimakasih atas jawabannya,
Dapat disimpulkan berarti pada setiap model pembelajaran yang membedakan dengan model pembelajaran sains adalah disintaknya, bagaimana jika model pembelajaran sain digunakan pada pelajaran di luar sains seperti pada pelajaran sosiologi apakah bisa diterapkan atau perlu modifikasi syntak..
Yang membedakan pembelajaran khusus sain dng yang lainya iyalah di lihat dari sintak2nyaa
ReplyDeleteDapat disimpulkan perbedaan dari tiap model itu terletak pada sintak model pembelajarannya.
ReplyDeleteSetiap model pembelajaran yang diterapkan ke peserta didik semua itu sebenarnya sudah efektif tinggal penerapan yang filakukan oleh gurunya lagi, apakah dia bisa menguasai model n materi yang diterapkan dan diajarkan atau tidak..
ReplyDeleteSetiap model pembelajaran sudah di buktikan oleh penciptanya bahwa model tersebut berhasil jadi mau model pembelajaran apapun itu menurut saya afektif kembali lagi dengan yang menerapkannya mampu atau tidak.
Artikel yang sangat menarik. Saya akan menanggapi pertanyaan no 3. Semua model efektif diterapkan.tergantung gurunya nya menyesuaikan dengan materi pembelajaran dan dan memodifikasi model pembelajarannya. Terima kasih
ReplyDeleteSya akan menanggapi soal no 3.
ReplyDeleteSemua model itu efektif untuk digunakan tetapi sebaiknya guru harus mencocokan terlebih dahulu materi dng model yg akan digunakan agar proses kbm dpt berjalan sesuai harapan dan materi yg disampaikan bisa dipahami oleh setiap siswa.
Artikelnya sangat bermanfaat, mnurut saya yang membedakan model pembelajaran khusus sains dengan model pembelajaran lain adalah langkah-langkah atau sintaks pembelajaran yang digunakan sesuai dengan langkah -langkah pada metode ilmiah.
ReplyDeletesaya akan menanggapi pertanyaan no 2 tentang cara mengatasi kelemahan dalam model pembelajaran khas sains yaitu guru harus mengerti dengan langkah-langkah dalam proses pembelajaran sains, perlunya arahan dari guru.
ReplyDeleteuntuk soal nomor 3, ke efektifan model tergantung bagaimana guru memonitor siswanya, keaktifan siswa, dan penguasaan model pembelajaran
ReplyDeleteYg membedakan adalah sinyak pd model
ReplyDeleteterimakasih